DASAR HUKUM ILMU HADITS

Para ulama ahli hadits meneliti bahwa dasar dan rukun pokok dalam ilmu riwayat hadits dan menukil kabar-kabar, itu bersumber dari Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah An-Nabawiyah. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti “  (QS. Al-Hujuraat: 6)

Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَبَلَّغَهَا، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

“Semoga Allah memancarkan cahaya kepada seorang hamba yang mendengar sabdaku, memahaminya kemudian menyebarkannya kepada hamba lain yang belum mendengarnya.” [HR. At-Tirmidzi (2657) dan ia berkata hadits hasan shohih]

Dalam riwayat lain Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

Betapa banyak orang yang menyampaikan hadits, namun dia tidak memahaminya. Terkadang pula orang yang menyampaikan hadits menyampaikan kepada orang yang lebih paham darinya.” (HR.  Abu Daud, Ibnu Majah dan Ath Thobroni. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

Maka ayat yang agung dan hadits yang mulia ini merupakan dasar penetapan dalam pengambilan berita, tata cara penukilannya dengan memperhatikan kaidah yang telah ditetapkan dan meneliti  dengan detail dalam menukil berita itu dari orang lain.

Di zaman para sahabat, ilmu sanad belum ada karena mereka meriwayatkan langsung dari Rasulullah -Shallallaahu ‘alaihi wasallam-, mereka bertanya langsung jika mempunyai masalah dan sebagian mereka mencatatnya, lalu mereka memberitahukannya kepada sahabat lain yang tidak mendengarkannya.

Klarifikasi sanad baru dimulai ketika muncul fitnah, terutama setelah terbunuhnya khalifah ‘Utsmaan bin ‘Affaan -radhiyallahu ‘anhu-, munculnya firqah khawarij dan syi’ah, lalu masuknya pemikiran-pemikiran filsafat yang merusak tatanan cara berpikir umat Islam dan menjauhkannya dari Al-Qur’an dan Sunnah, paham-paham bid’ah seperti qadariyyah, jabriyyah, jahmiyyah, mu’tazilah serta munculnya orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, contohnya Al-Mukhtaar Ats-Tsaqafiy.

Maka dari sinilah kaum muslimin mulai memperketat sanad, yaitu mereka memperketat mata rantai sumber penukilan hadits Rasulullah.

Setiap ada yang menyampaikan hadits, mereka tanyakan terlebih dahulu dari mana sumber penukilannya, jika sumbernya dari ahlussunnah maka mereka menerimanya, jika dari ahli bid’ah maka mereka menolaknya.

Al-Imam Muhammad bin Siiriin berkata :

لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ، فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ، فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

“Mereka (para ulama) tidak pernah menanyakan sanad hingga kemudian muncul fitnah, mereka berkata, “Sebutkan para perawi (rijal) kalian!” kemudian mereka melihat jika ia adalah ahlussunnah maka diambillah haditsnya, dan mereka mereka melihat jika ia adalah ahli bid’ah maka tidak diambil haditsnya.” [lihat Muqoddimah Shahih Muslim]

_____________

Ustadz Abu Dawud Ilham Al Atsary hafidzohulloh @madrosahsunnah

Leave A Comment

Laporan Donasi Madrosah Sunnah

Laporan Donasi Madrosah Sunah Oktober 2017