HUKUM SEPUTAR BEJANA (TEMPAT AIR)

Bejana adalah sesuatu yang digunakan untuk menampung air atau yang lainnya, baik itu bahan bakunya terbuat dari kayu, kulit, tanah atau yang lainnya.

Pada dasarnya semua bejana boleh digunakan kecuali dua hal, sebagaimana disebutkan oleh Syeikh Dr. Shalih bin Fauzan hafizhahullah.

Pertama: Bejana yang terbuat dari emas dan perak baik difungsikan sebagai sepuhan atau sebagai bahan atau lainnya, kecuali hanya sedikit saja untuk memperbaiki atau mematri bejana tersebut. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لا تشربوا في آنية الذهب والفضة ولا تأكلوا في صحفهما، فإنها لهم في الدنيا ولنا في الآخرة (رواه البخاري و مسلم).

 

Janganlah kalian minum dari bejana yang terbuat dari emas dan perak dan janganlah kalian makan dari piring yang terbuat dari keduanya, kerena sesungguhnya keduanya itu untuk mereka (orang kafir) di dunia dan bagi kita di akhirat. (HR. Al-Bukhariy dan Muslim).

Pengharaman ini mencakup kaum laki-laki maupun perempuan. Hanya saja boleh bagi perempuan berhias dengan emas.

Kedua: Bejana yang terbuat kulit bangkai. Bejana yang terbuat dari kulit bangkai adalah haram kecuali jika sudah disamak. Apabila sudah disamak maka pendapat yang kuat dikalangan para ulama bahwa boleh digunakan. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Menyamak kulit menjadikan ia suci (HR. Ahmad dan Muslim).

Lihat penjelasan selengkapnya pada Kitab Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiy Oleh Syeikh Dr. Shalih bin Fauzan hafizhahullah

Wallahu a’lam

____________

Ustadz Anshari, S. Th. I, MA hafizhahullah @madrosahsunnah

Leave A Comment

Laporan Donasi Madrosah Sunnah

Laporan Donasi Madrosah Sunah Oktober 2017