BERSEDEKAH SEPERTIGA HARTA (01)

وعن أبي إسحاقَ سَعدِ بنِ أبي وَقَّاصٍ مالِكِ بنِ أُهَيْب بنِ عبدِ منافِ ابنِ زُهرَةَ بنِ كلابِ بنِ مُرَّةَ بنِ كعبِ بنِ لُؤيٍّ القُرشِيِّ الزُّهريِّ – رضي الله عنه – أَحَدِ العَشَرَةِ المشهودِ لهم بالجنةِ – رضي الله عنهم – قَالَ: جاءنِي رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَعُودُنِي عَامَ حَجَّةِ الوَدَاعِ مِنْ وَجَعٍ اشْتَدَّ بي، فقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ! إنِّي قَدْ بَلَغَ بي مِنَ الوَجَعِ مَا تَرَى، وَأَنَا ذُو مالٍ وَلا يَرِثُني إلا ابْنَةٌ لي، أفأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي؟ قَالَ: «لا» ، قُلْتُ: فالشَّطْرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فقَالَ: «لا» ، قُلْتُ: فالثُّلُثُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الثُّلُثُ، والثُّلُثُ كَثيرٌ – أَوْ كبيرٌ – إنَّكَ إنْ تَذَرْ وَرَثَتَكَ أغنِيَاءَ خيرٌ مِنْ أنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يتكفَّفُونَ النَّاسَ، وَإنَّكَ لَنْ تُنفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغي بِهَا وَجهَ اللهِ إلا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ في فِيِّ امْرَأَتِكَ» …

Dari ‘Amir bin Sa’ad, dari ayahnya, Sa’ad, ia adalah salah seorang dari sepuluh orang yang dijamin masuk surga- berkata,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku ketika haji Wada’, karena sakit keras. Aku pun berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakitku sangat keras sebagaimana yang engkau lihat. Sedangkan aku mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan. Bolehkah saya sedekahkan 2/3 dari harta itu?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau separuhnya?” Beliau menjawab, “Tidak.” Saya bertanya lagi, “Bagaimana kalau sepertiganya?” Beliau menjawab, “Sepertiga itu banyak (atau cukup besar). Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu kaya, itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan maksud untuk mencari ridha Alah pasti kamu diberi pahala, termasuk apa yang dimakan oleh istrimu.”….(bersambung)

Hadits di atas mengisahkan tentang sahabat sa’ad bin abu waqqash -Rhadiyallahu anhu- tatkala beliau sakit keras. Beliau adalah salah seorang sahabat yang paling pertama masuk islam dan  berhijrah karena Allah -Azza Wa Jalla-. Adalah Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memiliki akhlak yang mulia  dan kebiasaan Beliau -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjenguk orang-orang yang sakit. Sebab hal itu merupakan hak seorang muslim.

Tatkala Sa’ad -Rhadiyallahu anhu- menyangka bahwa ia akan meninggal karena sakitnya dan ia memiliki harta. maka  ia berniat menyedekahkannya hingga 2/3 harta yang ia miliki supaya harta itu bisa memberi manfaat bagi dirinya kelak di akhirat dan membantu kaum muslimin yang membutuhkan. Akan tetapi niat baiknya itu tidak diizinkan oleh Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- karena melihat ada mudhorot dibalik hal tersebut sebab ia memiliki seorang ahli waris yaitu putrinya.

Sebab meninggalkan ahli waris dalam keadaan kuat ekonominya itu lebih baik dari pada membuat mereka harus meminta-minta kepada manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyetujui tawaran Sa’ad -Rhadiyallahu anhu- untuk menyedekahkan 1/3 dari hartanya dan bersabda” 1/3 itu sudah banyak”.

Oleh karena itulah, para sahabat yang lain tidak ada yang melewati batas tersebut seperti abu bakar Ash-Shiddq -Rhadiyallahu anhu- menetapkan 1/5 dari harta yang boleh disedekahkan.

Hal ini memberi kita pelajaran, Jika seseorang jatuh sakit yang dikhawatirkan akan mengantarkannya kepada kematian, maka tidak boleh ia menyedekahkan lebih dari 1/3 hartanya. Karena hartanya masih berkaitan dengan hak orang lain yaitu para ahli warisnya. Adapun jika sakitnya tidak mengantarkannya pada kematian ataukah ia dalam keadaan sehat wal afiat maka boleh baginya bersedekah sesuai dengan keinginannya; entah 1/2, 2/3 atau seluruh dari hartanya.

Namun dengan catatan selama ia diketahui memiliki sesuatu yang bisa mencukupi kebutuhannya dari  orang lain (tidak meminta-minta kepada orang lain).

Lalu Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengingatkan bahwa bersedekah dengan keikhlasan hati akan menuai pahala di sisi Allah -Subhana wa Ta’ala- walaupun kepada orang yang wajib kita nafkahi seperti istri, anak maupun orang tua.

FAEDAH HADITS

  1. Disyariatkannya menjenguk orang sakit.
  2. Hadits ini merupakan dalil bahwa seorang mayyit yang meninggalkan harta bagi ahli warisnya adalah lebih baik untuknya.
  3. Wasiat tidak boleh lebih dari 1/3 dari jumlah harta.
  4. Pahala bersedekah akan diraih dengan syarat niat ikhlas karena Allah -Ta’ala- dan mengharapkannya keridhoan-Nya.
  5. Bersedekah kepada karib kerabat lebih baik daripada kepada orang lain. Karena bersedekah kepada karib kerabat mendapatkan dua pahala yaitu pahala menyambung silaturahim dan pahala sedekah. Adapun kepada orang lain hanya mendapatkan pahala sedekah saja.

Bersambung, In syaa Allah.

____________

Ustadz Abu Dawud Ilham Al Atsary hafidzohulloh @madrosahsunnah

Leave A Comment

Laporan Donasi Madrosah Sunnah

Laporan Donasi Madrosah Sunah Oktober 2017