MAKNA, SYARAT-SYARAT DAN KONSEKUENSI لا اله إلا اللّٰه

MAKNA KALIMAT  لا اله إلا اللّٰه

Kalimat ini merupakan kalimat yang ringkas, akan tetapi ia merupakan penentu selamat atau tidaknya seseorang, ia adalah pembeda antara keimanan dengan kekafiran, mu’min dengan kafir, dia juga merupakan dzikir yang paling utama di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, ia juga merupakan dakwah para Nabi dan Rasul Allah yang diutus ke muka bumi ini. Oleh karena itu, seorang mu’min/muslim berkewajiban untuk memahami kalimat ini.

Makna kalimat لا إله إلا اللّٰه adalah لا مَعْبُودَ بِحَقٍ إلاّ اللّٰه ( tidak ada sesembahan yang benar selain Allah). ( Al-Qaul Al-Mufiid fi Adillah At-Tauhiid, h. 27). Karena itu, selain Allah, apabila ia disembah maka ia adalah sesembahan yang batil.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surah Al-Hajj ayat 62 dan surah Luqman ayat 30:

ذَلِكَ بِأنّ اللّٰهَ هُوَ الْحَقُ وَأنَّ مَا يَدْعُوْنَ مِنْ دُنِهِ هُوَ الْبَطِلُ…. (الحج : ٦٢).

Artinya:
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah yang Haq, dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain-Nya adalah batil. (QS. Al-Hajj ayat 62. Lihat juga surah Luqmaan ayat 30).

Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata bahwa:

اللّٰه هو المعبود المألوه الذي لا يستحق العبادة سواه.

Allah (Dialah) Yang diibadahi Yang disembah, yang tidak berhak diibadahi selain-Nya.

Pada kalimat لاإله إلا اللّٰه terdapat dua rukun, yaitu:

Pertama: Peniadaan ( an-nafyu ), artinya menafikan segala yang disembah selain Allah.

Kedua: Penetapan ( al-Itsbaat ), Yaitu menetapkan Allah Subhanahu Wata’ala semata sebagai sesembahan yang berhak untuk diibadahi.

SYARAT-SYARAT لا إله إلا اللّٰه

Sebagaimana pembahasan sebelumnya bahwa kalimat لا إله إلا اللّٰه mempunyai keutamaan yang yang sangat besar, namun keutamaan tersebut dapat diraih apabila reepenuhi syarat-syaratnya.

Di antara syarat tersebut adalah:

  1. Al-Ilmu, yaitu mengetahui makna kalimat tersebut baik yang dinafikan maupun yang ditetapkan (oleh kalimat tersebut).
  2. Al-Yaqin, yaitu mengetahui secara sempurna kalimat tersebut. Yakin menafikan syak (keraguan).
  3. Al-Ikhlash, yaitu menafikan kesyirikan, kemunafikan, riya dan sum’ah.
  4. Ash-Shidq, jujur, lawan dari dusta, yaitu mengucapkan kalimat ini dengan jujur dalam hati.
  5. Al-Mahabbah yaitu mencintai kalimat ini dan makna yang terkandung di dalamnya serta merasa senang dengannya.
  6. Al-Inqiyaad, yaitu tunduk dengan konsekuensi kalimat tersebut, dengan menjalankan kewajiban dengan ikhlas kepada Allah dan mengharap ridha-Nya.
  7. Al-Qabuul, yaitu menerima yang menafikan sikap ar-radd (menolak).

Inilah tujuh syarat لا إله إلا اللّٰه .

Dan sebagian Ulama menambahkan syarat yang kedelapan, yaitu: al-kufru bi ath-thawaaghib (mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah). (Sumber; Al-Qaul al-Mufiid fii Adillah at-Tauhiid, dan Al-Wajibaat al-Mutahattimaat al-Ma’rifah ‘ala’ Kulli Muslim wa Muslimah).

KONSEKUANSI لا إله إلا اللّٰه

Kalimat لا إله إلا اللّٰه memiliki konsekuensi yaitu meninggalkan segala peribadahan kepada selain Allah dan ini ditunjukkan pada kalimat لا إله (yaitu penafian terhadap segala yang disembah selain Allah), dan menetapkan bahwa ibadah itu hanya kepada Allah yang tidk ada sekutu baginya, dan ini ditunjukkan pada kalimat  إلا اللّٰه ( kecuali hanya kepada Allah ). Inilah yang terkandung dalam ayat:

واعبدوا اللّٰه ولا تشركوا به شيئا ( النساء : ٣٦).

Artinya:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.

wallahu a’lam

____________

Ustadz Anshari, S. Th. I, MA hafizhahullah @madrosahsunnah

Leave A Comment

Laporan Donasi Madrosah Sunnah

Laporan Donasi Madrosah Sunah Oktober 2017