Keadaan Para Salaf Di Bulan Ramadhan

Keadaan Para Salaf Di Bulan Ramadhan

Pertanyaan :
“Semoga Allah memberkahi anda wahai syeikh yang mulia, bagaimanakah petunjuk (bimbingan) Rasulullah sallalahu alaihi wasallam dan para sahabat -semoga Allah meridhoi mereka- dibulan ramadhan ?.”

Jawaban :
“Petunjuk Nabi sallalahu alaihi wasallam, dan salafus shalih dari kalangan sahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik, adalah menyongsong bulan yang penuh berkah ini dengan melakukan berbagai kebaikan dan meninggalkan perbuatan buruk. Sungguh Jibril mengunjungi Nabi sallalahu alaihi wasallam setiap malamnya untuk mengajarkan al-qur’an.

Beliau adalah manusia yang paling dermawan yang melebihi angin yang berhembus, terutama pada bulan Ramadlan ketika malaikat Jibril ‘Alaihis Salam menemuinya, beliau beri’tikaf disepuluh malam yang akhir dibulan ramadhan dalam rangka mencari laillatul qadar. I’tikaf adalah seseorang menetap dimasjid untuk fokus mengerjakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

(Al-Allamah Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullah, Silsilah Fataawa Nur Alad Darb/Ash-Shiyam/Masa’il Mutafarraqah Fis Shiyam/Kaset no. 213.)

 

Pertanyaan :
“Bagaimana kondisi para salafus shalih -semoga Allah meridhoi dan merahmati mereka- di dalam menyongsong bulan yang agung ini ? Bagaimana petunjuk, bimbingan dan arahan mereka ? Bagaimana pula persiapan seorang muslim agar dapat menjaga malam dan siangnya ? Persiapan ilmiah berupa pengetahuan tentang hukum-hukum puasa, pengetahuan tentang pembatal-pembatal puasa dan hukum-hukumnya, sebagahian orang melalaikan hal tersebut, mereka tidak mempelajari tentang puasa dan fiqhi nya, maka kami memohon arahan anda dalam permasalahan ini, semoga Allah menjaga anda !.”

Jawaban :
“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha penyayang

Wa alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada anda, dan pada apa yang telah anda singgung dalam dua pertanyaan yang sangat penting.

Pertanyaan pertama, tentang keadaan para salaf pada bulan ramadhan. Yakni keadaan mereka sebagaimana yang tercantum didalam berbagai kitab yang diriwayatkan dengan sanad yang terpercaya, bahwa sebelum ramadhan tiba, mereka memohon (berdoa) kepada Allah Azza wa Jalla agar dapat sampai dibulan ramadhan, mereka memohon hal tersebut karena mereka mengetahui kebaikan yang agung dan manfaat yang luas yang ada pada bulan ramadhan. Kemudian, apabila ramadhan telah masuk, mereka memohon pertolongan agar dapat mengerjakan amalan sholih dibulan tersebut, dan jika ramadhan telah berlalu, mereka memohon kepada Allah agar ibadah dan amalan sholih mereka diterima. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. [QS. Al-Mu’minun :60].

Yakni mereka bersungguh-sungguh dalam beramal, namun mereka ditimpa perasaan gundah setelah beramal, apakah amalan mereka diterima atau tidak, hal itu disebabkan pengetahuan mereka akan keagungan Allah Azza wa Jalla, dan pengetahuan mereka bahwa Allah tidak menerima amalan kecuali jika disertai dengan keikhlasan, dan benar sesuai dengan sunnah Rasul-Nya sallalahu alaihi wasallam. Mereka sama sekali tidak merekomendasikan diri-diri mereka, bahkan mereka khawatir, amalan-amalanya terhapus meskipun mereka telah letih didalam mengerjakannya. Karena Allah Azza wa Jalla berfirman :

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. [QS. Al-Maidah :27].

Dan mereka fokus mengerjakan ibadah dibulan ramadhan, serta meminimalkan amalan dunia, banyak meluangkan waktunya duduk dirumah-rumah Allah Azza wa Jalla (masjid), mereka berkata : “kami akan menjaga puasa kami dengan tidak mengghibah seorangpun”, mereka menghadirkan mushaf dan mempelajari kitab Allah Azza wa Jalla (al-qur’an), mereka benar-benar menjaga agar waktunya tidak terbuang percuma, mereka tidak lalai, tidak pula menyia-nyiakannya sebagaimana keadaan banyak orang sekarang. Bahkan mereka benar-benar menjaga waktu malamnya dengan qiyamul lail, siangnya dengan puasa, tilawah qur’an, berdzikir kepada Allah dan amalan-amalan kebaikan yang lainnya, tidak semenit bahkan tidak sedetik pun kecuali diisi dengan amalan sholih.”

(Al-Allamah, DR. Sholih bin Fauzan hafidzahullah, Sumber Fatwa http://www.alfawzan.af.org.sa/node/9840)

_________________

Ustadz Hilal Abu Naufal Al Makassary Hafizhahullah
(Pengasuh Pondok Pesantren Darul Furqon Palopo)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )