
Hukum-Hukum Seputar Adzan Dan Iqamah
Shalat wajib harus dilaksanakan pada waktunya, dan tidak boleh dilaksanakan sebelum masuk waktu. Dan kebanyakan manusia tidak mengetahui masuknya waktu shalat, atau terkadang mereka dalam kesibukan sehingga tidak memperhatikan masuknya waktu shalat. Maka Allah mensyariatkan adzan untuk shalat sebagai tanda bahwa waktu shalat telah masuk. Dan adzan ini disyaritkan pada tahun kedua hijriah. (Syeikh Dr. Shalih bin Fauzan, Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiy, h. 98).
1. Definisi Adzan dan Iqamah
Secara bahasa adzan adalah pemberitahuan dan pemakluman. Sebagaimana firman Allah:
وَأذَانٌ مِنَ اللهِ وَرَسُوۡلِهِ
Artinya:
“Dan inilah suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya”. (QS. At-Taubah ayat 3).
Sedangkan menurut istilah, adzan adalah pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat fardhu dengan lafaz-lafaz khusus. (Abdullah bin Abdurrahman Alu Bassam rahimahullah, Taisiir al-Allaam Syarah Umdatul Ahkam, Juz I, h. 117).
Sedangkan iqamah secara bahasa berasal dari kata أقام artinya mendirikan atau menjadikan sesuatu menjadi lurus. Dan secara istilah, iqamah artinya beribadah kepada Allah dengan memulai shalat dengan dzikir tertentu. (Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shahih Fiqh as-Sunnah, Juz I, h. 238).
2. Hukum Adzan dan Iqamah
Adzan dan Iqamah adalah fardhu kifayah artinya bahwa wajib bagi semua kaum muslimin untuk menegakkannya. Apabila telah ada jumlah yang mencukupi menegakkannya, maka gugurlah dosa yang lain.
Keduanya merupakan syiar Islam yang paling nampak. Keduanya disyariatkan atas laki-laki baik ketika mukim atau dalam keadaan safar apabila ingin menegakkan shalat lima waktu. Penduduk suatu negeri berhak diperangi apabila meninggalkannya. Karena keduanya adalah syiar Islam yang paling nampak, maka tidak boleh menghilangkannya. (Lihat Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiy, h. 99).
wallahu a’lam
________________
Ustadz Anshari, S. Th. I, MA hafizhahullah
(Pembina Pusat Dakwah dan Kajian Sunnah Gowa)

