Kisah 3 Orang Yang Terperangkap Di Dalam Gua (Seri 02)

Kisah 3 Orang Yang Terperangkap Di Dalam Gua (Seri 02)

قَالَ رجلٌ مِنهُمْ: اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوانِ شَيْخَانِ كَبِيرانِ، وكُنْتُ لاَ أَغبِقُ قبْلهَما أَهْلاً وَلا مالاً فنأَى بِي طَلَبُ الشَّجرِ يَوْماً فَلمْ أُرِحْ عَلَيْهمَا حَتَّى نَامَا فَحَلبْت لَهُمَا غبُوقَهمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِميْنِ، فَكَرِهْت أَنْ أُوقظَهمَا وَأَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلاً أَوْ مَالاً، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدِى أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُما حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ وَالصِّبْيَةُ يَتَضاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمى فَاسْتَيْقظَا فَشَربَا غَبُوقَهُمَا. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ فَفَرِّجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَة، فانْفَرَجَتْ شَيْئاً لا يَسْتَطيعُونَ الْخُرُوجَ مِنْهُ…

Seseorang dari mereka berkata, “Ya Allah, aku memiliki dua orang tua yang sudah tua renta. Dan aku tidak pernah menyiapkan minuman malam untuk keluarga dan pembantu sebelum mereka, suatu hari Aku telah jauh mencari kayu pohon sehingga aku tidak kembali kepada mereka hingga mereka telah tidur. Lalu aku memeras susu minuman malamnya namun aku lihat mereka masih tertidur, lalu aku tidak ingin membangunkan mereka dan dan tidak ingin menyiapkan minuman malam untuk keluarga dan pembantu sebelum untuk mereka. Kemudian aku tetap berdiri –sedang bejana ada di kedua tanganku- menunggu mereka bangun hingga datang fajar terang, padahal bayi perempuanku merengek lapar di bawah kakiku. Lalu mereka bangun dan meminum minuman malamnya. Ya Allah, jika aku lakukan hal itu karena mengharap ridho-Mu maka bukakanlah batu yang sedang kami hadapi ini”. Kemudian batu itu terbuka sedikit namun mereka belum dapat keluar…

Orang yang pertama pun mulai berdoa kepada Allah -Azza Wa Jalla- dengan harapan diselamatkan dari kesusahan yang mereka alami. Ia menyatakan bahwa ia memiliki ayah dan ibu yang telah lanjut usia. Ia sangat menyayangi ayah dan ibunya dan berbakti kepada keduanya serta melebihkan mereka daripada anak dan istrinya. Ia bekerja sepanjang siang dan kembali ke rumahnya di waktu sore hari lalu memerah kambing miliknya agar susunya diberi minum kepada kedua orang tua dan keluarganya. Tidaklah ia memberi susu itu kepada diri dan keluarganya sebelum kedua orang tuanya minum terlebih dahulu. Ini adalah bakti seorang anak kepada kedua orang tuanya yang mana hal tersebut merupakan perintah Allah -Subhana Wa Ta’ala- kepada hamba-hamba-Nya,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya…” (QS. Al-Ankabut : 8)

Namun di suatu hari, ia pergi mencari kayu bakar dan berjalan terlalu jauh. Sehingga ia terlambat pulang dan kembali ketika kedua orang tuanya telah tertidur. Ia pun berpikir dalam keadaan memegang susu yang telah ia perah. Apakah ia berikan kepada keluarganya yang lapar sebelum orang tuanya ataukah ia mendahulukan orang tuanya dan menunggu hingga keduanya bangun.

Maka ia pun memilih yang ke dua dan berjaga disamping tempat tidur kedua orang tuanya, dalam keadaan memegang bejana yang berisi susu tadi hingga datangnya fajar. Tatkala kedua orang tuanya bangun maka ia memberi minum kepada keduanya setelah itu kepada keluarganya.

Ini merupakan gambaran yang sempurna bagi orang yang berbakti kepada orang tua. Kita sulit mendapatkan orang seperti ini di zaman sekarang. Dimana ia lebih mendahulukan keridhaan orang tuanya daripada keridhaan keluarga apalagi orang lain.

Tidak sedikit kita mendengar seorang anak yang membentak ibunya hanya gara-gara membela istrinya. Seorang anak menghardik kedua orang tuanya hanya untuk mencari ridha istrinya. Padahal ridho Allah bersama ridhonya orang tua.  Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

“Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” [HR. Al Bukhori dalam Adabul Mufrod (1/2)]

Dan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda,

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَحَافِظْ عَلَى الْبَابِ أَوْ ضَيِّعْ

“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau ingin maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Terkadang kita bersusah payah melakukan amalan untuk masuk ke dalam surga Allah. Berbagai upaya kita kerahkan untuk mendapatkan surga yang abadi. Berhaji, umroh tiap tahun, bersedekah dan berinfak akan tetapi kita melupakan dan memandang rendah kedudukan orang tua di sisi kita.

Padahal ia adalah pintu surga yang paling besar bagi kita. Oleh karenanya, sungguh merugilah orang yang tidak bisa masuk surga karena kedua orang tuanya. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ

“Celaka, celaka, celaka!” Ada yang bertanya,”Siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya telah berusia lanjut, tetapi tidak membuatnya masuk ke dalam surga.”  [HR. Muslim (4627)].

Lalu orang itu berkata, “Ya Allah, jika aku lakukan hal itu karena mengharap ridho-Mu maka bukakanlah batu yang sedang kami hadapi ini ”. inilah sifat seorang mukmin yang sejati, yang ia tidak merasa ujub dan takjub dengan amalan yang telah ia lakukan.

Sungguh para salaf adalah orang-orang yang paling banyak melakukan ibadah, ketaatan dan amal sholih. Namun ternyata mereka tidak begitu saja mengandalkan amal perbuatan mereka. Bahkan senantiasa merasa khawatir kalau apa yang mereka lakukan itu masih belum diterima oleh Allah -Azza Wa Jalla- . sehingga terus merasa kurang dalam beramal dan tak henti-hentinya memohon ampunan kepada Allah -Subhana Wa Ta’ala- .

Akhirnya karena keikhlasannya dalam beramal, Allah -Azza Wa Jalla- mengabulkan doanya dan batu itupun bergeser sedikit.

FAEDAH HADITS :

  1. Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua dan mendahulukan mereka atas anak dan istri serta menahan dengan sabar kesusahan dalam berbakti kepada mereka. [Lihat Bahjatun Nadzirin hal. 48]

 

  1. Tingginya kedudukan ikhlas dalam beramal. Bahwa ia adalah sebab terbesar diterimanya suatu amalan. Seperti dalam hadits ini, Allah -Subhana Wa Ta’ala- menerima washilah orang ini karena ia ikhlas dalam berbakti kepada kedu orang tuanya.

[Syarah Riyadhus Sholihin karya Syaikh Al –‘Utsaimin -Rahimahullah- (hal. 71)]

__________________________________

Ustadz Abu Dawud Ilham Al Atsary hafizhahullah
(Pengasuh Buletin Madrosah Sunnah Makassar)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )