Kisah 3 Orang Yang Terperangkap Di Dalam Gua (Seri 01)

Kisah 3 Orang Yang Terperangkap Di Dalam Gua (Seri 01)

وعن أبي عَبْد الرَّحْمَن عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخطَّابِ، رضيَ اللهُ عنهما قَالَ: سَمِعْتُ رسولَ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ: “انْطَلَقَ ثَلاَثَةُ نَفَرٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى آوَاهُمُ الْمبِيتُ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فانْحَدَرَتْ صَخْرةٌ مِنَ الْجبلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمْ الْغَارَ، فَقَالُوا: إِنَّهُ لاَ يُنْجِيكُمْ مِنْ الصَّخْرَةِ إِلاَّ أَنْ تَدْعُوا الله تعالى بصالح أَعْمَالكُمْ …

Dari Abu Abdurrohman bin Abdullah bin Umar ra berkata, saya mendengar Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-  bersabda, “Telah pergi tiga orang dari umat sebelum kalian, hingga mereka datang waktu bermalam di sebuah gua. Lalu mereka memasukinya. Tiba-tiba batu besar dari gunung jatuh dan menutupi mereka dalam gua. Lalu mereka berkata: “Sungguh tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian kecuali kalian berdo’a kepada Allah dengan amal soleh kalian…”.

Dalam hadits ini, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengisahkan tentang tiga orang yang terperangkap di dalam sebuah gua. kisah ini terjadi di masa umat sebelum Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan para sahabat.

Ketiga orang tersebut melakukan perjalanan dan berhenti di sebuah gua untuk bermalam dan beristirahat. Namun, sesuatu yang tidak terduga dan disangka terjadi. Sebuah batu besar jatuh dari atas gunung dan menutupi tepat di mulut gua tempat ketiga orang tadi beristirahat. Mereka pun berusaha mendorong batu itu dan berusaha untuk keluar darinya akan tetapi mereka tidak mampu melakukannya disebabkan batunya terlalu besar.

Tatkala menyadari ketidakmampuan mereka, maka merekapun berserah diri kepada Rabb mereka; Allah -Azza Wa Jalla- Dzat Yang Maha Kuat lagi Maha Mendengar doa hamba-hamba-Nya. Merekapun mulai bertawassul kepada Allah dengan amal-amal sholih mereka.

Mungkin diantara kita mungkin masih ada yang belum mengetahui tentang tawassul. Tawassul adalah mengambil sarana/wasilah agar do’a atau ibadahnya dapat lebih diterima dan dikabulkan. Tawassul terbagi menjadi 3 yaitu,

  1. Tawassul syar’i yaitu mengambil perantara untuk  mendekatkan diri kepada Allah dengan cara-cara yang sesuai dengan syari’at. Seperti Bertawasul dengan zat Allah yang Maha Suci, dengan nama-nama-Nya yang baik, dengan sifat-sifat-Nya, atau dengan perbuatan-Nya, bertawasul dengan amal shalih dan tawassul kepada Allah dengan do’a orang shalih yang masih hidup.

 

  1. Tawassul Bid’i  yaitu mengambil perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan syari’at. Seperti Tawassul dengan kedudukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau kedudukan orang selainnya atau Bertawassul dengan cara menyebutkan nama atau kemuliaan orang shalih ketika berdo’a kepada Allah Ta’ala. Sebagai contoh orang yang berdoa ”Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan Syaikh Fulan, ampunilah aku.”atau dengan cara beribadah kepada Allah Ta’ala di sisi kubur orang shalih. Ini merupakan bid’ah yang diada-adakan, dan bahkan merupakan perantara menuju kesyirikan.

 

  1. Tawassul Syirik yaitu menjadikan orang yang sudah meninggal sebagai perantara dalam ibadah seperti berdo’a kepada mereka, meminta hajat, atau memohon pertolongan sesuatu kepada mereka. Seperti orang yang berkata,”Ya Sayyid Fulan, mohonlah kepada Allah untuk kami”.

 

Maka ketiga orang yang terperangkap ke dalam gua bertawassul kepada Allah dengan menggunakan amal-amal sholeh mereka dan itu tawassul yang dibolehkan di dalam syariat.

FAEDAH HADITS :

  1. Dianjurkannya berdoa ketika dalam keadaan susah dan genting.
  2. Disyariatkannya bertawassul kepada Allah -Subhana Wa Ta’ala- dengan amal-amal sholih.

[Lihat Bahjatun Nadzirin hal. 48]

__________________________________

Ustadz Abu Dawud Ilham Al Atsary hafizhahullah
(Pengasuh Buletin Madrosah Sunnah Makassar)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )