
Etika Syar’i Dalam Menyambut Bulan Ramadhan (Bag. Ketiga – Terakhir)
4. Berdoa Tatkala Melihat atau Mengetahui masuknya Awal ramadhan dan juga awal bulan² lainnya.
Termasuk diantara tuntunan Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, tatkala beliau menyaksikan atau mengetahui “hilal” ramadhan, ataupun bulan² lainnya, beliau berdoa :
اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ هِلالَ خَيْرٌ وَرُشْد رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
“Yaa Allah, terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam! Bulan yang baik baik dan lurus,Rabbku dan Rabbmu adalah Allah”.
Disebahagian riwayat, disebutkan bahwa Nabi sallalahu alaihi wasallam berdoa :
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ ربي وربك الله
“Allah Maha Besar, “Yaa Allah, terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam, Rabbku dan Rabbmu adalah Allah”.
[Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dalam sunannya : 9/142, dari hadits Tholhah bin Ubaidillah -radiyallahu anhu- semakna dengan itu, lihat Musnad Imam Ahmad : 1/162, dari hadits Bilal bin Yahya bin Tholhah bin Ubaidillah, dari ayahnya dari kakeknya].
Demikian doa yang dibaca oleh Rasulullah shallalahu alaihi wasallam, dan tidak ada doa khusus atau dikhususkan.
Al-Allamah, Prof DR Sholeh bin Fauzan -hafizhahullah- menjelaskan :
“Adapun mengkhususkan doa tatkala bulan ramadhan telah masuk, kami tidak mengetahui adanya hal tersebut. Tetapi, jika seorang muslim berdoa agar diberi pertolongan agar dapat berpuasa selama sebulan penuh dan diterima amal ibadahnya, maka hal itu tidak mengapa, asal jangan mengkhususkan doa tertentu”. [Al-Muntaqa Min Fataawa Al Fauzan : 2/370].
5. Boleh Saling Memberi Ucapan Selamat, Tatkala Ramadhan Telah Masuk.
Al-Allamah Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -rahimahullah- menuturkan :
“Telah ada riwayat dari para pendahulu yang sholih (salaf), bahwa sebahagian mereka saling memberikan ucapan selamat kepada yang lainnya, tatkala ramadhan telah masuk, hal ini tidak mengapa, misalnya dengan berkata :” syahrun mubarak” (bulan yang berkah), atau “baarakallahu laka fii syahrika” (semoga Allah memberkahimu pada bulan-ramadhan-ini), atau ucapan yang semakna dengan itu. Dan hendaknya membalas ucapan tersebut dengan ucapan yang semisalnya, seperti dengan ” wa laka bi mitsli hadza” (dan bagi anda juga seperti itu), atau “wa huwa mubarakun alaih “(dan itu keberkahan atasnya), ataupun ucapan lainnya yang bisa mewujudkan perasaan nyaman terhadap si pemberi ucapan selamat”. [Al-Liqo Asy-Syahri, no 70].
Al-Allamah, Prof DR Sholeh bin Fauzan -hafizhahullah- menerangkan :
“Tidak mengapa saling memberi ucapan selamat tatkala ramadhan tiba, karena kebiasaan Nabi sallalahu alaihi wasallam menyampaikan berita gembira kepada para sahabatnya dengan datangnya bulan ramadhan, serta memotivasi mereka agar bersungguh-sungguh beramal sholih dibulan tersebut”. [http://www.alfawzan.af.org.sa/node/7452].
Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah- menuturkan :
“Jika kaum muslimin bergembira dan saling menyampaikan berita gembira tersebut, serta memberi ucapan selamat diantara mereka, maka tidak mengapa. Sebagaimana hal itu dilakukan oleh para pendahulu yang sholih, karena Ramadhan adalah bulan yang agung, bulan yang diberkahi, yang seseorang pantas untuk bergembira dengannya”. [http://www.binbaz.org.sa/noor/9827]
PERINGATAN ❗️
Hendaknya dihindari kalimat “RAMADHAN KARIM” dikala saling memberi ucapan selamat.
Al-Allamah Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -rahimahullah- menerangkan :
“Kalimat “RAMADHAN KARIIM” itu tidak tepat, namun yang tepat hanyalah “RAMADHAN MUBARAK” dan yang semakna dengan itu, sebab bukanlah ramadhan yang “memberi” hingga disebut sebagai “kariim”, tetapi hanya Allah yang meletakkan keutamaan didalam bulan ramadhan.” [Majmu Fataawa war Rasa’il Jilid 20, pertanyaan no. 254].
Ustadz Hilal Abu Naufal Al Makassary Hafizhahullah
(Pengasuh Pondok Pesantren Darul Furqon Palopo)

