
Etika Syar’i Dalam Menyambut Bulan Ramadhan (Bag. Pertama)
Tak terasa, bulan ramadhan nan mubarak tinggal menghitung hari. Sebagai seorang muslim, tentunya hal ini merupakan berita gembira yang dinanti-nantikan. Sebagaimana dahulu para salafus sholeh senantiasa menanti dan berdoa agar dipertemukan dengan bulan mulia ini.
Al-Allamah, Prof DR Sholeh bin Fauzan -hafidzahullah- menyebutkan :
“(Salafus sholeh),sebagaimana yang tercantum didalam berbagai kitab yang diriwayatkan dengan sanad yang terpercaya, bahwa sebelum ramadhan tiba, mereka memohon (berdoa) kepada Allah Azza wa Jalla agar dapat sampai dibulan ramadhan, mereka memohon hal tersebut karena mereka mengetahui kebaikan yang agung dan manfaat yang luas yang ada pada bulan ramadhan. Kemudian, apabila ramadhan telah masuk, mereka memohon pertolongan agar dapat mengerjakan amalan sholih dibulan tersebut, dan jika ramadhan telah berlalu, mereka memohon kepada Allah agar ibadah dan amalan sholih mereka diterima”. [http://www.alfawzan.af.org.sa/node/9840].
Selain itu, ada beberapa etika yang sepantasnya dilakukan oleh setiap muslim/muslimah, dalam menyambut bulan ramadhan, diantaranya :
1. Menghadirkan Kegembiraan didalam Hati dan Merasakan Kebahagiaan Akan Kehadiran Bulan Ramadhan.
Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman :
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. [Surah Yunus 58]
Al-Allamah Prof DR Sholeh bin Fauzan -hafizahullah- menjelaskan :
“Maka kegembiraan yang terpuji, hanyalah berlaku dengan keutamaan dan rahmat Allah, yaitu bergembira dengan petunjuk dan agama yang benar. Agama yang dibawa oleh Rasulullah shallalahu alaihi wasallam. Terlebih lagi dimusim-musim hidayah dan amalan, sebagaimana dibulan ramadhan. Sungguh seorang yang beriman akan bersuka cita dengan kedatangannya, bergembira akan kehadirannya, senang dapat meraih kebaikan didalamnya.” [Istiqbalu Syahri Ramadhan Al-Mubarok, hal 3].
Prof DR Abdurrozzaq Al-Abbad -hafizahullah- menerangkan :
“Seharusnya kita bersuka cita dengan kehadiran bulan ini dengan kegembiraan yang besar, merasa bahagia dengan kedatangannya, mengistimewakan dan meninggikan kedudukan bulan ramadhan di hati kita”. [Wa Jaa Syahr Ramadhan, hal 16-17].
2. Mensyukuri kedatangan Ramadhan dengan memuji Allah, Sembari Bertekad Untuk Mengisi serta memaksimalkan diri diatas ketaatan.
Tidak diragukan lagi, bahwasanya ramadhan mubarak adalah suatu karunia dan nikmat nan agung yang Allah peruntukkan untuk hamba-hambaNya.
Prof DR Abdurrozzaq Al-Badr -hafizahullah- menuturkan :
“Hendaklah memuji Allah Jalla wa ‘Ala atas karunia-Nya kepada kita berupa kehadiran bulan ramadhan. Sebab betapa banyak orang yang mendapati bulan ramadhan yang lalu, bahkan bulan-bulan sebelumnya, namun di tahun ini mereka telah tiada, dan bisa jadi diantara kita ada yang tidak mendapati ramadhan tahun ini, atau mungkin hanya mendapati sebahagian saja dari hari ramadhan. Sehingga sepantasnyalah seorang muslim yang Allah memuliakannya dengan mendapati ramadhan agar bersyukur dan memuji Allah atas karunia-Nya..
Dan diantara bentuk kesyukuran, adalah dengan bertekad yang kuat untuk bersemangat dan bersungguh-sungguh mengerjakan ketaatan kepada Allah. Menegakkan hak Allah Tabaraka wa Ta’ala berupa puasa, sholat malam dan berbagai bentuk ibadah yang lainnya, serta bertekad untuk menjauhi perkara² yang Allah Ta’ala haramkan”. [Diringkas dari Wa Jaa Syahr Ramadhan, hal 17]. (Bersambung)
Ustadz Hilal Abu Naufal Al Makassary Hafizhahullah
(Pengasuh Pondok Pesantren Darul Furqon Palopo)

