Introspeksi Di Bulan Ramadhan
Ramadhan tahun ini telah menyapa kita. Ia merupakan bulan yang penuh berkah dan ampunan. Saat ini adalah waktu yang terbaik bagi kita untuk introspeksi diri. dari segala kekhilafan dan kekurangan.
Alangkah malunya nanti jika kita berdiri di hari kiamat. Hari dimana anak-anak kecil akan berubah menjadi beruban. langit akan runtuh dan bumi akan pecah; hancur binasa. Gunung-gunung pun menjadi debu-debu tak berguna. dengan keburukan amal perbuatan yang kita sebagai pelakunya. Tatkala catatan amal untuk mengungkit aib kita angkat bicara. Semua kan dihadapi sebagai jiwa sebagai terdakwa.Mungkin di hari ini, kita bisa mengevaluasi (muhasabah) diri kita sendiri dan menyelamatkan diri dari bahaya yang bisa menimpa dengan cara memperbanyak kebaikan dan bertaubat dari dosa-dosa. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,
“Dan dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda,
وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا
“Ikutilah perbuatan yang buruk dengan perbuatan yang baik, niscaya perbuatan yang baik itu akan menghapus perbuatan yang buruk” [HR. At-Tirmidzi dalam sunannya (1987)]
Akan tetapi di hari kiamat, tidak mungkin lagi manusia menyelamatkan diri dari keburukannya dengan sarana apapun; baik dengan tebusan, pembelaan kerabat keluarganya, pangkat ataukah keturunan. Allah -Azza Wa Jalla- berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at” (QS. Al-Baqarah: 254)
Makna ayat yang mulia ini adalah pada hari kiamat itu, seseorang tidak dapat menjual dirinya sendiri, menebusnya dengan harta benda, atau datang dengan membawa emas sebesar bumi, tidak bermanfaat lagi baginya sedekah dan syafaat seseorang. Semua pintu siasat telah tertutup baginya. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ اللَّهِ، لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
“wahai orang-orang Quraisy, belilah diri kalian sendiri dari Allah, aku tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun di sisi Allah”.[HR. Al-Bukhari (4771) dan Muslim (206)]
Allah -subhana wa ta’ala- juga berfirman,
“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya”. (QS. ‘Abasa: 34-37)
Artinya, pada hari kiamat semua manusia melihat manusia yang paling dekat dengan dirinya di dunia berlari menjauh darinya. Karena hari itu amatlah dahsyat.
Ikrimah pernah berkata,”seorang lelaki bertemu dengan istrinya. Lalu ia berkata kepadanya, “wahai istriku, suami macam apakah aku dulu bagimu?” si istri menjawab,”dulu engkau adalah suami yang paling baik”. Istri itu pun menyanjung suaminya dengan kebaikan yang ia mampu diucapkannya. Kemudian si suami berkata,”pada hari ini, aku minta kepadamu satu kebaikan yang bisa engkau berikan kepadaku. Semoga dengan itu aku selamat dari musibah yang engkau lihat saat ini”. Si istri berata kepadanya,”Alangkah mudahnya permohonan yang engkau minta. Akan tetapi, aku tidak mampu memberikannya kepadamu. Aku sangat takut seperti yang kau takutkan”.
Ikrimah melanjutkan,”seorang lelaki bertemu dengan anaknya kemudian terkait dengannya. Lelaki itu berkata,”wahai anakku, orangtua macam apakah aku dulu bagimu ?” si anak pun menyanjung orang tuanya dengan kebaikan. Lalu orang tua itu berkata kepadanya,”wahai anakku, aku membutuhkan kebaikanmu sebesar dzarrah saja. Semoga dengan itu aku selamat dari musibah yang engkau lihat saat ini”. Si anak berkata,”betapa mudahnya permohonan yaang engkau minta. Namun, aku juga sangat takut seperti yang kau takutkan. Sehingga aku tidak mampu memberikannya kepadamu”.
Dalam hadits shahih yang berbicara tentang masalah syafaat disebutkan bahwa apabila setiap rasul Ulul Azmi diminta untuk meminta syafaat dari sisi Allah -Ta’ala- untuk para makhluk, mereka menjawab, “diriku, diriku (ungkapan penyesalan). Pada hari ini aku tidak memintanya, melainkan untuk diriku sendiri”. Bahkan Isa bin Maryam berkata,”pada hari ini, aku tidak memintanya, melainkan untuk diriku sendiri. Aku tidak memintakannya untuk Maryam yang telah melahirkanku”.
Sedangkan firman Allah -Ta’ala-,”Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa: 37), artinya setiap orang berada dalam musibah yang menyibukkannya dari memerhatikan orang-orang yang paling dicintainya. Abdullah bin Abbas -Radhiyallahu ‘anhu- meriwayatkan dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahwasanya beliau bersabda,
تُحْشَرُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا»، فَقَالَتْ امْرَأَةٌ: أَيُبْصِرُ أَوْ يَرَى بَعْضُنَا عَوْرَةَ بَعْضٍ؟ قَالَ: يَا فُلَانَةُ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ
“mereka akan digiring di padang Mahsyar dalam keadaan tanpa alas kaki, telanjang dan belum dikhitan”. Seorang wanita bertanya,”apakah sebagian kita melihat sebagian lainnya ?”. beliau menjawab,”wahai fulanah, pada hari itu, setiap orang dari mereka mempunyai urusan yang cukup menyibukkan”.[HR. At-Tirmidzi (3332) beliau berkata,”hadits ini hasan shahih”]
Hadirkanlah kedahsyatan hari kiamat ini dalam benak anda. Bersiaplah dan jangan lalai. Sebab bahaya hari kiamat pasti terjadi. Keluarga, kerabat, pangkat dan harta tidak akan menyelematkan anda darinya. Lalu kenapa manusia tidak bersiap-siap untuk menghadapi bahaya dan kedahsyatannya. Bayangkanlah wahai manusia keadaanmu di hari kiamat. Wahai orang yang terbiasa menyia-nyiakan sholat, menuruti syahwat, memakan harta haram, dan melakukan perbuatan dosa dan kriminal. Apakah yang akan menyelamatkan kalian dari musibah di hari kiamat. Apabila Mizan (timbangan amal) sudah dipancangkan, surga sudah di dekatkan, api neraka sudah dinyalakan, dan ayah, anak serta saudara sudah berlepas tangan darimu?
“Peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. kemudian masing-masing diri diberi Balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 281)
[Disadur dari Al-Khutab Al-Mimbariyah Fi Al-Munasabat Al-Atsariyah oleh Syaikh Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan -Hafidzahullah-]
Mudah-mudahan dengan sedikit nasehat ini, menjadi pendorong bagi kita untuk menyadari segala kesalahan dan kekurangan yang telah kita lakukan, dengan memanfaatkan ramadhan tahun ini untuk meminta ampun dan bertaubat dari segala dosa dan maksiat.
Ustadz Abu Dawud Ilham Al Atsary hafizhahullah
(Pengasuh Buletin Madrosah Sunnah Makassar)

