
Jangan Cela Hidupmu
Oleh : Asy-Syeikh Al Allamah Muhammad bin Sholih al Utsaimin -rahimahullah-
#الســؤال :
هل يجوز لإنسان أن يشتم الحياة إذا غضب أو ضاق منها نرجو منكم التوجيه في ذلك ؟.
.
#الجــواب :
الحمد لله
لا يحل للإنسان إذا ضاق من الحياة أن يشتم الحياة لقول النبي صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربه أنه قال تعالى : ( يؤذيني ابن آدم يسب الدهر وأنا الدهر بيدي أقلب الليل والنهار ) وثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال : ( لا تسبوا الدهر فإن الله هو الدهر ) أي هو المصرف للدهر وعلى الإنسان إذا ابتلي ببلية أن يصبر ويحتسب فإن الله أمر بالصبر .
وقال لنبيه صلى الله عليه وسلم : ( تلك من أنباء الغيب نُوحيها إليك ما كنت تعلمها أنت ولا قومك من قبل هذا فاصبر إن العاقبة للمتقين ) هود /٤٩ ، وليعلم الإنسان أنه ما من مصيبة إلا في الدنيا أعظم منها فإذا علم ذلك هانت عليه مصيبته .
Pertanyaan :
“Apakah boleh seseorang, mencela hidupnya, ketika dalam keadaan marah atau ditimpa kesempitan hidup? Kami mohon bimbingan anda”!.
Jawaban :
“Tidak halal bagi orang yang ditimpa dengan sempitnya kehidupan untuk mencela hidupnya. Hal ini berdasarkan sabda nabi yang diriwayatkan dari Allah (hadits qudsi), dimana Allah berfirman :
” Anak cucu adam (manusia) telah menyakitiku, manusia mencela waktu, padahal Aku lah pencipta waktu, ditanganKu perputaran siang dan malam”.[1]
Dan juga telah tsabit dari nabi sallalahu alaihi wasallam, beliau bersabda :”janganlah kalian mencela waktu, karena Allah adalah pencipta waktu”.[2]
Maksudnya, Allah yang membuat perubahan waktu.
Kewajiban orang yang diberi cobaan adalah bersabar dan mengharap pahala dari cobaan tersebut. Allah memerintahkan nabiNya-sallalahu alaihi wasallam untuk bersabar :
تِلْكَ مِنْ أَنبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهَا إِلَيْكَ مَا كُنتَ تَعْلَمُهَا أَنتَ وَلَا قَوْمُكَ مِن قَبْلِ هَٰذَا فَاصْبِرْ إِنَّ الْعَاقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ
“Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.[3].
Dan hendaknya seseorang mengetahui bahwa tidaklah suatu musibah, kecuali didunia itu lebih dahsyat darinya. Jika ini difahami, musibah yang menimpanya akan terasa ringan.
Catatan kaki :
[1] HR. Al Bukhari. No.4452, Muslim. No.4165.
[2] HR. Muslim. No.4169.
[3] QS. Hud :49.
Sumber :
Fatwa Fadhilatus Syeikh Muhammad bin Sholih al-utsaimin pada majalah “Ad Da’wah : 1757/45. Dengan perantaraan Nuur alad dhorb.
________________
Ustadz Hilal Abu Naufal Al Makassary Hafizhahullah
(Pengasuh Pondok Pesantren Darul Furqon Palopo)

