
Kisah 3 Orang Yang Terperangkap Di Dalam Gua (Seri 04 – Terakhir)
وقَالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجرَاءَ وَأَعْطَيْتُهمْ أَجْرَهُمْ غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ الَّذي لَّه وَذَهبَ فثمَّرت أجْرَهُ حَتَّى كثرت منه الأموال فجائنى بَعدَ حِينٍ فَقالَ يَا عبدَ اللهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي، فَقُلْتُ: كُلُّ مَا تَرَى منْ أَجْرِكَ: مِنَ الإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَم وَالرَّقِيق فقالَ: يا عَبْدَ اللَّهِ لا تَسْتهْزيْ بي، فَقُلْتُ: لاَ أَسْتَهْزيُ بِكَ، فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فاسْتاقَهُ فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْه شَيْئاً، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتغَاءَ وَجْهِكَ فافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ، فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فخرَجُوا يَمْشُونَ “متفقٌ عليه.
“Kemudian orang ketiga berkata, “Ya Allah, aku pernah menyewa para pekerja, dan mereka telah aku bayar upahnya kecuali seorang yang pergi meninggalkan upahnya, lalu aku kembangkan upahnya itu hingga hartanya menjadi banyak. Lalu orang itu datang kepadaku setelah sekian lama, dan berkata, “Wahai hamba Allah, bayarlah kepadaku upahku!” Lalu aku menjawab, “Seluruh apa yang engkau lihat adalah dari upahmu berupa unta, sapi, kambing dan budak” Dia berkata, “Wahai hamba Allah, janganlah engkau menghinaku!” Aku menjawab, “Aku tidak sedang menghinamu.” Lalu dia mengambill harta itu seluruhnya dan membawanya serta tidak meninggalkan satupun. Ya Allah, sekiranya aku lakukan hal itu karena mengharap ridho-Mu maka bukakanlah batu yang ada pada kami. Lalu batu itu terbuka, dan mereka keluar dan melanjutkan perjalanan”. [Muttafaqun ‘alaihi]
Lalu giliran orang yang terakhir untuk berdoa kepada Allah -Azza Wa Jalla- agar mereka bisa keluar dari gua tersebut. Ia menuturkan bahwa dahulu ia memiliki seorang pekerja yang pergi sebelum mengambil upahnya. Maka ia menyimpan dan mengembangkan uang tersebut dengan perdagangan dan sebagainya, hingga terkumpul dari uang tersebut sapi, unta, kambing, budak dan harta yang mewah dan indah.
Maka di suatu hari, pekerja itu mendatangi majikannya yang dahulu untuk mengambil haknya. Maka sang majikanpun menunjukkan kepada pekerja itu bahwa seluruh harta yang engkau lihat ini adalah milikmu. Sang pekerjapun merasa tidak percaya dan menganggap sang majikan hanya bercanda atau sedang merendahkan dirinya. Sebab ia yakin bahwa uang miliknya dahulu yang ada di majikannya hanya sedikit dan tidak seberapa.
Bagaimana mungkin semua harta berupa sapi, unta, kambing, budak dan harta yang mewah dan indah menjadi miliknya ?! akan tetapi majikannya meyakinkannya dan mengembangkan uangnya ikhlas mencari wajah Allah -Subhana Wa Ta’ala- . Lalu pekerja itu mengambil seluruh harta tersebut dan tidak menyisakan sedikitpun darinya.
Kemudian ia memohon kepada Allah -Azza Wa Jalla-, jika yang ia lakukan itu ikhlas karena-Nya, maka bebaskanlah mereka dari kesusahan yang menimpa mereka. Maka Allah -Subhana Wa Ta’ala- pun mengabulkan doanya dan menolong mereka dengan menggerakkan batu tersebut hingga mereka bisa keluar dari gua. Hal ini disebabkan karena mereka bertawassul dengan amal-amal sholih yang dilakukan ikhlas karena Allah -Azza Wa Jalla- .
Kisah ini memberikan gambaran kesempurnaan sikap amanah seorang muslim. Dimana ia menjaga dan menunaikan apa-apa yang dititipkan atau dipercayakan kepadanya dengan sangat baik dan penuh kejujuran. Itulah makna yang terkandung dalam firman Allah -Subhana Wa Ta’ala- ,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah-amanah kepada pemiliknya; dan apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kalian menetapkan hukum dengan adil.” (QS. An-Nisa: 58)
Amanah tidak terbatas pada harta dan materi saja namun mencakup segala perkara yang dipercayakan kepada seseorang. Maka menunaikan amanah merupakan kewajiban dan tuntutan keimanan serta menyia-nyiakannya merupakan alamat kehancuran dan hari kiamat. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,’ dia (Abu Hurairah) bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?’ Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” [HR. Al-Bukhari (6496) As-Syamilah]
Di zaman ini, betapa banyak kontraktor-kontraktor, pegawai negeri mau pun pejabat pemerintah, yang bertugas melayani kepentingan publik, yang diangkat bukan karena memiliki kemampuan dan kecakapan serta amanah dalam bertugas, melainkan karena mereka yang punya koneksi dengan seorang penguasa, atau mereka yang bisa menjaga kepentingan seorang pejabat.
Sehingga mereka tidak menunaikan hak dan kewajibannya bahkan justru mengkhianati kaum muslimin dengan melakukan korupsi dan lain sebagainya. Inilah yang Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- peringatkan sejak 14 abad yang lalu,
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.”(HR. Ibnu Majah, disahihkan al-Albani dalam as-Shahihah [1887] as-Syamilah).
FAEDAH HADITS :
- Keutamaan sifat amanah dan memperbaiki suatu pekerjaan untuk orang lain.
- Penjelasan Maha Kuasanya Allah dalam menggerakkan batu tersebut. Tidak ada alat yang menggesernya dan tidak ada orang-orang yang mendorongnya. Hanyalah batu tersebut bergeser karena perintah Allah -Subhana Wa Ta’ala- .
- Allah -Subhana Wa Ta’ala- Maha Mendengar doa hamba-hamba-Nya dan mengabulkan doa mereka.
- Keikhlasan dalam beramal merupakan sebab diselamatkan dari kesusahan dan kesulitan. Adapun amalan yang dilakukan karena riya’ dan sum’ah maka tidak akan mendatangkan manfaat bagi pemiliknya. [Lihat Syarah Riyadhus Sholihin karya Syaikh Al –‘Utsaimin Rahimahullah (hal. 83)]
__________________________________
Ustadz Abu Dawud Ilham Al Atsary hafizhahullah
(Pengasuh Buletin Madrosah Sunnah Makassar)

