Silaturahmi, Makna, Keutamaan & Bentuknya

Silaturahmi, Makna, Keutamaan & Bentuknya

Makna Silaturahmi

Imam Ibnu Manzhur rahimahullah menukil dari Al-Imam Ibnul Atsir rahimahullah, bahwa makna silaturahmi “adalah suatu ungkapan tentang perbuatan baik kepada karib kerabat yang senasab atau karena perkawinan, berlemah lembut, menyayangi dan memperhatikan keadaan mereka meskipun mereka berada ditempat yang jauh dan berbuat jahat. Sedangkan memutus silaturahmi, adalah lawan dari hal itu semua’.” [1]

Dari pengertian di atas, maka silaturahmi hanya ditujukan pada orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengan kita, seperti kedua orang tua, kakak, adik, paman, bibi, keponakan, sepupu, dan lainnya yang masih ada hubungan kekerabatan dengan kita.

Oleh karena itulah, termasuk kekeliruan, ketika kata silaturahmi digunakan pada hubungan antara kawan, sahabat, rekan sejawat, kolega, yang mereka tidak ada hubungan keluarga atau kekerabatan dengan kita.

Hakikat Silaturahmi

Silaturahmi yang hakiki, tidak hanya sebatas menyambung hubungan baik dengan keluarga atau kerabat yang telah berbuat baik kepada kita, tetapi silaturahmi yang hakiki adalah berusaha menyambung kembali tali kekerabatan yang telah retak dan putus, disertai dengan berbuat baik kepada kerabat atau keluarga yang memutuskan dan berbuat jahat kepada kita.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنِ الْوَاصِلُ الَّذِيْ إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا.

“Orang yang menyambung kekerabatan bukan hanya sekedar membalas kebaikan, tetapi orang yang menyambungnya adalah orang yang menyambung kekerabatannya apabila diputuskan”.[2]

Keutamaan Silaturahmi

Silaturahmi memiliki keutamaan dan manfaat yang sangat besar, baik didunia terlebih lagi di kehidupan akhirat. Diantara keutamaannya :

1. Dengan silaturahmi, seseorang telah menegakkan perintah Allah dan sunnah rasul-Nya sallalahu alaihi wasallam.
Allah Jalla Jalaluh berfirman :

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

“Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hisab yang buruk. (QS. Ar Ra’d:21).

Al Imam Asy Syaukani menjelaskan :
“Secara tekstual, ayat ini mencakup setiap apa yang Allah perintahkan untuk dihubungkan, dan larangan memutuskan dari hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya. Terutama hubungan silaturahmi, sebagaimana ditafsirkan oleh kebanyakan mufassir, meskipun makna lafadznya lebih luas”[3]

2. Silaturahmi merupakan salah satu tanda dan indikator sempurnanya keimanan seorang hamba.
Abu Hurairah radiyallahu anhu menceritakan, bahwa Rasulullah sallalahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ كاَنَ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَاليَوْمِ الآخر فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi”.[4]

3. Penyebab diluaskan rezki dan dipanjangkannya usia.
Rasulullah sallalahu alaihi wasallam bersabda :

مَنْ سَرَّه أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِه

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menyambung silaturahmi”.[5]

4. Penyebab untuk mendapatkan kecintaan dari keluarga dan kerabat.

Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma berkata :

مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسّىءَ فِي أَجَلِه وَثَرَى مَالَهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahmi niscaya umurnya akan diperpanjang dan hartanya akan diperbanyak serta keluarganya akan mencintainya.”[6]

5. Penyebab seorang terhindar dari sikaan/adzab yang disegerakan didunia.

Dari Abu Bakrah, Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِى الدُّنْيَا – مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِى الآخِرَةِ – مِثْلُ الْبَغْىِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ

“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan balasannya bagi para pelakunya di dunia dan disimpan untuknya di akhirat, daripada perbuatan melampaui batas (kezhaliman) dan memutuskan silaturahmi” [7]

6. Penyebab dimasukkannya seorang hamba kesurga serta dibebaskan dari neraka.

Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, Rasulullah menjawab:

تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

“Sembahlah Allah, janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi” [8]

7. Akan senantiasa ditolong oleh Allah

أَتَى رَجُلٌ ، فَقَالَ : ” يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونَنِي ، وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ ، وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَئِنْ كَانَ كَمَا تَقُولُ ، فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ وَلا يَزَالُ مِنَ اللَّهِ مَعَكَ ظَهِيرٌ ، مَا زِلْتَ عَلَى ذَلِكَ.

Seorang lelaki mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya memiliki kerabat yang jika saya berusaha menyambung silaturrahmi dengan mereka, mereka berusaha memutuskannya, dan jika saya berbuat baik pada mereka, mereka malah berbuat jelek kepadaku, dan mereka bersikap acuh tak acuh padahal saya bermurah hati pada mereka”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kalau memang halnya seperti yang engkau katakan, maka seolah- olah engkau memberi mereka makan dengan bara api dan pertolongan Allah akan senantiasa mengiringimu selama keadaanmu seperti itu.” [9]

8. Pahala silaturahmi lebih besar daripada memerdekakan budak.
Maimunah bintul harits radiyallahu anha mengabarkan kepada Rasulullah sallalahu alaihi wasallam :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشَعَرْتَ أَنِّي أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِي قَالَ أَوَفَعَلْتِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ

“Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”. [10]

9. Penyebab seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [11]

Bentuk-Bentuk Silaturahmi

Al-Mubarakfuri, menukil dari Ibnu Abi Jamrah-rahimahumallah- menyebutkan :”secara umum menyambung tali silaturahmi dengan melakukan kebaikan dan berusaha menolak bahaya yang kemungkinan akan terjadi terhadap keluarga/kerabat, sesuai dengan kemampuan. Misalnya dengan pemberian harta, menolong agar kebutuhannya terpenuhi, menghalangi dari bahaya yang mengancam, wajah berseri-seri saat bertemu, dan juga dengan mendoakan kebaikan.[12]

Al-Allamah Ibnu Utsaimin-rahimahullah- menjelaskan cara untuk menyambung tali silaturahmi. Misalnya dengan cara saling berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. Sambunglah silaturahmi itu dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, dan dengan segala hal yang sudah ma’ruf ditengah-tengah manusia dalam membangun silaturahmi.[13]

Kesimpulannya, kaifiyat (teknis) menjalin dan menyambung hubungan silaturahmi dengan keluarga dan kerabat batasannya dikembalikan ke urf’ (kebiasaan yang sudah dikenal oleh masyarakat), sepanjang tidak ada pelanggaran syariat di dalamnya-Allahu a’lam.

Catatan kaki :
[1] Lisanul Arab :11/726, An Nihayatu fii Ghoribil Atsar :5/425.
[2] HR. Al Bukhari no.5532, Abu Dawud no.1446.
[3] Fathul Qodir :4/105.
[4] HR. Al Bukhari no.5673.
[5] HR. Al Bukhari no.5526, Muslim no.4638.
[6] HR Al Bukhari dalam Adabul Mufrod no.58.
[7] HR. Abu Dawud no.4256, At Tirmidzy no.2435, Ibnu Majah no, 4201. Shohih Ibnu Majah no.4211.
[8] HR Al Bukhari no.1309, Muslim no.14.
[9] HR. Muslim no.4640.
[10] HR. Al Bukhari no.2403
[11] HR. Muslim no.4635
[12] Tuhfatul Ahwadzi : 5/129
[13] Ad Dhiya’ Al-Lami’ Min Khithobil Jawami’, hal.645.

________________

Ustadz Hilal Abu Naufal Al Makassary Hafizhahullah
(Pengasuh Pondok Pesantren Darul Furqon Palopo)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )