Hal-Hal Yang Dibolehkan (Mubah) Dalam Shalat

Hal-Hal Yang Dibolehkan (Mubah) Dalam Shalat

Dalam pelaksanaan shalat, ada beberapa hal yang dibolehkan untuk dilakukan walaupun hal tersebut bukan bagian dari shalat. Dan ini disepakati oleh para ulama tentang kebolehannya. Di antara perkara tersebut adalah sebagai berikut:

1. Mencegah Orang yang Hendak Lewat Di Depannya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu anhu:

إذَا كَانَ أحَدُكُمۡ يُصَلِّي فَلاَ يَدَعۡ أحَدًا يَمُرُّ بَيۡنَ يَدَيۡهِ فَإنۡ أبَی, فَالۡيُقَتِلۡهُ, فَإنَّ مَعَهُ الۡقَريۡنُ.

Artinya:
“Apabila salah seorang di antara kalian shalat, maka jangan membiarkan seseorang lewat di depannya. Apabila ia enggan, maka hendaknya diperangi, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan)”. (Riwayat Muslim).

2. Menggendong Bayi dalam Shalat

Dari Abu Qatadah radhiallahu anhu ia berkata:

أنَّ رَسُوۡاَ اللهِ صَلَّی اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُو حامِل أمَامَۃ بِنۡت زَيۡنَب بِنۡت رَسوۡلِ اللهِ صَلّی اللهُ عَلَيه وَسَلّم, فَإذَا سَجَدَ وَضَعَها, وإذَا قَام حَمَلَها.

Artinya:
” Rasulullah shallallahu alaihi wasallan shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulillah shallallahu alaihi wasallam. Jika sujud, beliau meletakkannya dan jika bangkit beliau menggendongnya kembali”. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

3. Melakukan Gerakan yang Ringan Jika Dibutuhkan, Seperti Membuka Pintu

Disebutkan bahwa Aisyah radhiallahu anha berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّی اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي الۡبَيۡتِ والۡبَابُ عَلَيۡهُ مُغۡلَقٌ, فجئت فاسۡتَفۡتَحۡتُ فَمَشَی فَفَتَحَ لِي, ثُمَّ رَجَعَ إلَی مُصَلَّاهُ, وَوَصَفۡتُ أنَّ الۡبَابَ فِي الۡقِبۡلَۃِ.

Artinya:
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah sedang mengerjakan shalat di rumah dan pintu sedang tertutup, ketika aku datang, maka aku meminta dibukakan pintu, maka beliau berjalan dan membukakan untukku, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya. Aisyah menjelaskan bahwa pintu pada saat itu di arah kiblat.” (Riwayat Abu Daud dan At-Tirmizi dan dihasankan oleh Syeikh Al-Bani).

4. Membunuh ular, kalajengking dan semua yang membahayakan dalam shalat.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh dua binatang hitam dalam shalat, yaitu kalajengking dan ular. (Riwayat Abu Daud, At-Tirmizi, An-Nasi dan Ibnu Majah).

5. Menyingkirkan kaki orang yang tidur di depan orang yang shalat jika diperlukan.

Dari Aisyah radhiallahu anha ia berkata: “Aku pernah membentangkan dua kakiku di arah kiblat Nabi shalallahu alaihi wasallam dan beliau sedang shalat, maka apabila beliau sujud, beliau menyentuhku, apabila beliau berdiri maka aku kembali membentangkan kakiku”. (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

6. Melepas sandal dan selainnya dalam shalat jika dibutukan.

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu ia berkata: “Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat bersama dengan para sahabat, tiba-tiba beliau melepas sandalnya dan meletakkannya di sebelah kirinya, ketika orang-orang melihatnya, maka mereka pun melakukannya. (Riwayat Abu Daud).

7. Meludah ke baju atau sapu tangan atau tissu

Hal ini berdasarkan riwayat dari Jabir radhiallahu anhu Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إنَّ أحَدَكُمۡ إذَا قَامَ يُصَلِّي فَإنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالی قِبَلَ وَجۡهِهِ, فَلاَ يَبۡصُقَنَّ قِبَلَ وَجۡهِهِ, وَلاَ عَنۡ يَمِنِهِ, وَلۡيَبۡصُقۡ عَنۡ يَسَارِهِ تَحۡتَ رِجۡلِهِ الۡيُسۡرَی, فَإنۡ عَجِلَتۡ بِهِ بَادِرَۃٌ فَلۡيَقُلۡ بِثَوۡبِهِ هَكَذَا, ثُمَّ طَوَی ثَوۡبَهُ بَعۡضَهُ عَلی بَعۡضٍ.

Artinya:
“Apabila salah seorang di antara kalian berdiri untuk shalat, sesungguhnya Allah Tabaaraka Wata’ala berada di hadapannya. Maka, janganlah ia meludah ke arah depan wajahnya atau ke arah kanannya. Tetapi hendaklah ia meludah le arah kiri di bawah kaki kirinya. Apabila ia tidak mampu menahannya, maka hendaklah ia melakukan demikian ini, kemudian beliau melipat satu bagian bajunya dengan bagian yang lainnya.” (Riwayat Muslim)

8. Menggaruk anggota badan dan merapikan baju dalam shalat.

Hal ini berdasarkan atsar dari Ali radhiallahu anhu disebutkan bahwa:

كَانَ عَلِِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ إذَا قَأمَ فِي الصَّلاَۃِ وَضَعَ يَمِيۡنهُ عَلَی رسۡغِ يسارِهِ, وَلاَ يزَالُ كذَلِكَ حتَّی يركعَ إلاَّ أنۡ يُصلحَ ثَوۡبهُ أو يحكّ جَسدَهُ.

Artinya:
“Ali radhiallahu anhu apabila berdiri mengerjakan shalat, ia meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, ia terus seperti itu hingga rukuk, kecuali ingin merapikan bajunya atau menggaruk badannya.” (Riwayat Al-Bukhari secara muallaq).

9. Bertasbih bagi laki-laki dan menepuk tangan bagi perempuan jika terjadi sesuatu dalam shalat.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

مَنۡ نَابَهُ شَيۡءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلۡيُسَبِّحۡ فَإنَّهُ إذَا سَبَّحَ الۡتُفِتَ إلَيۡهِ وَإنَّمَا التَّصۡفِيحُ لِلنِّسَاءِ.

Artinya:
“Barangsiapa yang mendapatkan sesuatu (kesalahan) dalam shalatnya maka hendaklah ia bertasbih, karena jika ia bertasbih maka ada yang menoleh kepadanya, sesungguhnya bertepuk tangan hanya untuk wanita”. (Riwayat Al-Bukhari).

10. Menoleh ke kanan atau ke kiri jika diperlukan.

Hal ini berdasarkan keterangan yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Jabir radhiallahu anhu bahwa:

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah mengeluhkan rasa sakit. Maka kami pun shalat di belakang beliau dan beliau shalat dalam keadaan duduk. Dan Abu Bakar memperdengarkan suara takbir beliau kepada manusia. Maka beliau (Rasulullah) menoleh kepada kami dan melihat kami shalat dalam keadaan berdiri. Maka beliau pun mengisyaratkan kepada kami untuk duduk. Maka kami pun shalat dalam keadaan duduk seperti beliau”.

Maka ini menunjukkan bahwa boleh seseorang menoleh apabila ada keperluan. Namun, apabila tidak ada keperluan maka tidak dibolehkan menoleh, sebab itu termasuk curian yang dilakukan oleh setan pada shalat seorang hamba. Sebagaimana akan dijelaskan pada perkara-perkara yang dilarang dalam shalat.

11. Memberi Isyarat dengan Tangan atau Kepala Apabila Diperlukan.

Hal ini berdasarkan hadis riwayat Muslim dan Abu Daud dari Jabir radhiallahu anhu, beliau berkata: “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutusku dan beliau menuju Bani Mushthaliq. Maka aku mendatangi beliau saat beliau sedang shalat di atas ontanya, maka aku mengajaknya berbicara, maka beliau berisyarat dengan tangannya, kemudian aku berbicara lagi kepada beliau, maka beliau berisyarat dengan tangannya begini. Aku mendengar beliau membaca dan mengisyaratkan dengan kepalanya. Kemudian setelah selesai shalat, maka beliau bersabda:

ما فعلت في الذي أرسلتك فإنه لم يمنعني من أن أرد عليك إلا أني كنت أصلي.

Artinya:
“Apa yang engkau telah lakukan dengan misi yang aku mengutusmu dengannya? Tidak ada yang menghalangiku untuk mejawabmu kecuali karena aku shalat”.

12. Menjawab Salam Kepada Orang yang Memberi Salam.

Ketika ada orang yang memberi salam kepada orang yang sedang shalat, maka boleh bagi dia untuk menjawabnya dengan berisyarat menggunakan tangan.
Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam keluar menuju Quba’ untuk shalat di dalamnya. Maka orang-orang Anshar mendatangi beliau dan memberi salam dan beliau dalam keadaan shalat. Maka aku (Ibnu Umar) berkata kepada Bilal, ‘Bagaimana engkau melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab salam mereka ketika mereka mengucapkan salam kepada Rasulullah sementara beliau sedang shalat?’ Maka Bilal menjawab:

هكذا, ويبسط كفه (وجعل بطنه أسفل وجعل ظهره إلی فوق).

Artinya:
“Begini” Beliau membentangkan telapak tangannya, dengan menjadikan telapak tangan di bawah dan punggung tangan di atas”. (Riwayat Abu Daud).

13. Melihat Mushaf Al-Qur’an dan Membacanya dalam Shalat Sunnah Jika Diperlukan.

Dari Al-Qasim rahimahullah berkata:

أنّ عائشۃ رضي الله عنها كانت تقرأ في المصحف فتصلي في رمضان.

“Bahwa Aisyah radhiallahu anha dahulu membaca mushaf ketika shalat di bulan Ramadhan”. (Riwayat Abdurrazzaq).

Dalam riwayat yang lain, Al-Qasim rahimahullah berkata:

كان يؤم عائشۃ عبدً يقرأ في المصحف.

“Dahulu seorang budak mengimami Aisyah dengan membaca mushaf”. (Riwayat Al-Bukhari secara muallaq).

Keterangan di atas menunjukkan bolehnya melihat mushaf Al-Qur’an dalam shalat sunnah jika memang diperlukan.

Adapun melakukannya dalam shalat wajib, maka tidak dibolehkan, demikian pula dalam shalat sunnah jika tidak diperlukan. (Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shahih Fiqhussunnah, Juz I, h. 310).

14. Menyela (Membenarkan) Bacaan Imam

Apabila imam mengalami kekeliruan dalam bacaannya, maka makmum hendaknya membenarkannya.

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat, dan beliau mengalami kekeliruan ketika membaca ayat. Maka tatkala beliau selesai dari shalatnya, maka beliau berkata kepada Ubay:

صَلَّيۡتَ مَعَنَا؟ قَالَ: نَعَمۡ, قَالَ: فَمَا مَنَعَكَ؟

“Apakah engkau shalat bersama kami? I a berkata: “Iya”. Beliau bersabda: “Apakah yang menghalangimu (untuk membetulkan bacaanku)? (Riwayat Abu Daud).

Faidah:

– Hendaknya tidak langsung membenarkan bacaan imam selama ia mengulang bacaannya. Karena mungkin akan teringat dengan sendirinya.

– Tidak langsung membetulkan bacaan imam bila ia terdiam dan tidak mengulangi bacaannya, kecuali terlalu lama diamnya. Karena mungkin saja ia sedang berfikir sejenak tentang apa yang sedang ia baca.

– Tidak boleh menyela imam bila salah dalam bacaannya selama tidak mengubah maknanya.

15. Mengulang-Ulang Ayat dalam Shalat Sunnah.

Hal ini sebagaimana riwayat dari Abu Dzar radhiallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam membaca ayat:

إنۡ تُعَذِّبۡهُمۡ فَإنَّهُمۡ عِبَادُكَ وَإنۡ تَغۡفِرۡ لَهُمۡ فَإنَّكَ أنۡتَ الۡعَزِيۡزُ الۡحَكِيۡمُ

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. (Surah Al-Maidah ayat 118).

Beliau mengulangi ayat di atas hingga subuh. (Riwayat Ahmad, An-Nasai dan Al-Hakim).

Wallahu a’lam.

________________

Ustadz Anshari, S. Th. I, MA hafizhahullah
(Pembina Pusat Dakwah dan Kajian Sunnah Gowa)

CATEGORIES
TAGS
Share This

COMMENTS

Wordpress (0)
Disqus ( )