
Konsekuensi Syahadat Kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam
Sebagaimana syahadat kepada Allah memiliki konsekuensi, maka demikian juga syahadat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Di antara konsekuensinya adalah sebagai berikut:
1. Membenarkan semua yang beliau kabarkan, tidak meragukan sedikit pun apa yang beliau sampaikan, bahkan apa yang ada di hati harus lebih kuat dari apa yang ada di lisan,
sebagimana firman Allah Subhanahu Wata’ala:
إنّهُ لَحَقٌ مِّثْلَ ما أنّكُم تَنْطِقُوْنَ. (الذاريات ٢٣)
Artinya:
“… Sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan.”(QS. Az-Zariyaat, ayat 23).
Orang lazimnya tidak meragukan kata-kata yang diucapkan. Maka demikian juga Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak boleh meragukan apa pun yang beliau sampaikan, kita yakini bahwa itu adalah kebenaran. Walaupun jarak antara kita dengan beliau cukup jauh, dan jarak yang dimaksud adalah sanad. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak berada di hadapan kita.
Meski demikian, apabila ada hadis yang tsabit (shahih) dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka kita wajib mempercayainya. Baik kita ketahui dari mana asalnya atau tidak. Sebab, kadang ada hadis yang kita ketahui maknanya, namun kita tidak ketahui dari mana asalnya, maka kita tetap wajib mempercayainya. ( Syarah Al-Arbaiin An-Nawawiyah, Oleh Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, h. 42).
2. Mengerjakan semua perintah beliau tanpa keraguan sedikit pun
Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala,
Dan tidak pantas bagi laki-laki yang beriman dan perempuan yang beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzaab, ayat 36).
Karena itu, termasuk kesalahan adalah apa yang dikatakan oleh sebagian orang, saat ada perintah Allah dan Rasul-Nya, maka dia mulai bertanya-tanya, “apakah ini wajib atau sekedar anjuran saja”? Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang di masa ini. Maka pertanyaan yang seperti ini harus dibuang. karena para sahabat radhiallahu anhum ketika diperintah oleh Nabi shallallahu alsihi wasallam, mereja sama sekali tidak bertanya, “wahai Rasulullah, apakah ini wajib, anjuran atau selain dari itu?” Bahkan mereka langsung mengerjakan dan membenarkan perintahnya tanpa bertanya. Karena itu kami katakan: “tidak perlu bertanya, jika kamu bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah, maka kerjakan apa yang diperintahkan. (Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyah, h. 42)
3. Menjauhi semua larangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tanpa sedikit pun keraguan, dan tidak mengatakan bahwa “ini tidak ada di dalam Al-Qur’an”, karena hal itu akan membuat kamu binasa.
Sebab apa pun yang datang dari sunnah maka itu juga adalah hal yang diperintahkan dalam Al-Qur’an untuk diikuti. Nabi shallallahu alaihi wasallam telah mengingatkan orang seperti ini dan orang-orang yang semisalnya yang menyatakan “ini tidak dijelaskan dalan Al-Qur’an”. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لاَ أََلۡفِيَنّ أحَدَكُم عَلَی أرِيۡكَتِهِ أیۡ جَالِسَا مُتَبَخۡتِرًا مُتَعَاظِمًا يَأۡتِيهِ الۡأمۡر مِنۡ عِنۡدِي فَيَقُوۡلُ مَا أدۡرِي, ماكَانَ فِي كِتابِ ﷲ اِتَّبَعۡنَاه (رواه أبو داود و الترمذي)
Artinya:
Jangan sampai aku menemui salah seorang di antara kalian duduk dengan sombong dan angkuh, datang kepadanya perintah dariku lalu dia berkata: “aku tidak tahu, aku hanya mengikuti apa yang ada dalam kitab Allah.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmizi).
Maksudnya adalah, apa yang tidak ada dalam Al-Qur’an maka kami tidak ikuti, padahal kita sudah sebutkan sebelumnya (poin pertama-pent) bahwa apa pun yang datang dari Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka itu juga datang (dijelaskan) dalam Al-Qur’an, karena Allah berfirman:
وَاتَّبِعُوۡهُ
ikutilah dia (al_A’raf ayat 158).
Ini mencakup umum semua apa yang beliau sampaikan. ( Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyah, h. 43)
4. Tidak mendahulukan perkataan siapa pun atas perkataan Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Oleh karena itu, tidak boleh lebih mengedepankan perkataan seorang imam dari imam-imam kaum muslimin daripada perkataan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebab anda sendiri atau imam yang dimaksud, sama-sama mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Betapa besar perkara orang yang anda debat dan anda mengatakan kepadanya “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda seperti ini,” lalu dia berkata: “tetapi imam fulan berkata begini dan begini”, maka ini adalah perkara besar. Oleh karena itu, tidak halal bagi seorang pun menentang sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam dengan perkataan siapa pun juga.
Disebutkan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwa ia berkata: “Hampir saja kalian dihujani dengan batu dari langit, aku katakan, ‘Rasulullah berkata begini’, tetapi kalian, ‘Abu Bakar radhiallahu anhu dan Umar radhiallahu anhu berkata begini dan begitu?. (Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyah, h. 43).
Dari perkataan Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dapat dipahami bahwa apabila perkataan dua orang sahabat yang mulia ini (Abu Bakar dan Umar) tidak bisa dijadikan sebagai hujjah untuk membantah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, lalu bagaimana dengan perkataan selain keduanya?
5. Tidak berbuat bid’ah dalam bentuk apa pun dalam agama Allah yang tidak pernah didatangkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, baik dalam masalah aqidah, perkataan dan perbuatan.
Oleh karena itu, para ahli bid’ah tidak merealisasikan syahadat bahwa Muhammad adalah rasul Allah, karena mereka menambah-nambah syariat baru yang bukan bagian dari syariat beliau, mereka berlaku tidak sopan terhadap Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
6. Tidak berbuat bid’ah apa pun terkait dengan hak Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang tidak bersumber dari beliau.
Oleh karena itu, siapa saja yang mengada-adakan acara perayaan maulid nabi, maka mereka kurang merealisasikan syahadatnya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Karena konsekuensi dari syahadat ini adalah dengan tidak menambahkan apa pun yang bukan dari syariat beliau. (Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, Syarah al-Arba’in an-Nawawiyah, h. 43-44).
7. Kita meyakini bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam tidak memiliki sifat rububiyah sedikit pun, tidak dimintai do’a dan tidak memohon pertolongan kepada beliau kecuali pada masa hidupnya saja, pada hal-hal beliau bisa lakukan, karena beliau adalah hamba dan utusan Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
“Katakanlah (Muhammad), ‘ aku tidak kuasa mendatangkan manfaat atau pun menolak mudharat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah” (QS. Al-A’raf ayat 188).
Oleh karena itu, kita mengetahui kesesatan mereka yang mengklaim bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memiliki kuasa tertentu. Mereka adalah orang-orang tersesat dalam agama mereka dan bodoh pada akal mereka, karena Nabi sendiri tidak kuasa memberi manfaat atau menolak mudharat dari beliau sendiri, apalagi bagi orang lain.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan beliau untuk menyampaikan:
“Katakanlah (Muhammad), ‘aku tidak kuasa menolak mudharat atau pun mendatangkan kebaikan kepadamu. Katakanlah (Muhammad), ‘Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain dari-Nya” (QS. Al-Jin ayat 21-22).
Maksudnya bahwa, apabila Allah menghendaki sesuatu pada Nabi shallallahu alaihi wasallam , siapa pun tidak akan mampu menolak kehendak Allah padanya.
Karena itu, sangat jelas kesesatan orang yang memohon pertolongan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahkan perbuatan ini termasuk dalam kategori kesyirikan.
Apabila ada seseorang yang dilanda kesedihan dan duka, mendatangi kuburan Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu ia nengatakan “wahai Rasulullah, tolonglah aku yang tengah sedih dan duka ini”, maka perbuatan semacam ini adalah syirik besar. Sebab berdo’a kepada Rasulullah yang sudah meninggal, dan meminta kepada mayit agar mendapat pertolongan atau bantuan termasuk kesyirikan, karena mayit tersebut tidak mampu memberi sesuatu. (Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah, Syarah Al-Arba’in An-Nawawiyah, h. 44).
8. Memuliakan sabda-sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam.
Maksudnya adalah, tidak meletakkan hadits-hadits beliau pada tempat-tempat yang tidak layak, karena itu termasuk pelecehan. Termasuk dalam hal ini adalah dengan tidak mengeraskan suara di dekat kuburan beliau. Pernah Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab radhiallahu anhu mendengar dua orang dari Thaif mengangkat suaranya di Masjid Nabi shallallahu alaihi wasallam, maka Umar radhiallahu nahu berkata kepada keduanya, “Seandainya kalian berdua bukan dari Thaif, maka aku akan pukuli kalian hingga mengerang kesakitan”. Karena Allah subhanahu wata’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, nanti (pahala) segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.” (QS. Al-Hujurat ayat 2).
Ketika ayat ini turun, salah seorang sahabat yang bernama Tsabit bin Qais yang memiliki suara keras dan dia pernah berbicara langsung dengan Nabi, setelah mendengar ayat ini, dia hanya diam di rumah menangis sepanjang hari. Karena para sahabat tahu pasti seberapa besar kemuliaan Al-Qur’an. Akhirnya, Nabi shallallahu alaihi wasallam merasa kehilangan Tsabit, karena memang beliau selalu menanyakan para sahabat yang tidak kelihatan di Masjid. Ini menunjukkan perhatian beliau. Maka beliau menanyakan Tsabit, maka mereka (para sahabat) berkata, Ya Rasulullah, sejak ayat ini turun, maka dia hanya diam di rumah saja, menangis siang dan malam, maka beliau memerintahkan, “Pergilah dan panggilah dia kemari”, setelah ia datang, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bertanya, “Apa yang membuat kamu menangis wahai Tsabit?” Dia berkata, suara saya keras, saya takut jika ayat ini turun berkenaan dengan saya.? karena Allah berfirman: “Nanti (pahala) segala amalanmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari”. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Apa engkau tidak rela hidup mulia, mati syahid dan masuk surga”?.
Allahu Akbar. Siapa pun yang takut kepada Allah, maka ia aman. Tsabit bin Qais diam saja di rumah karena takut kepada Allah, namun Allah memberinya rasa aman. Karena itu, kita wajib mengakui bahwa Tsabit bin Qais termasuk penghuni surga, karena Nabi memberitahukan seperti itu. (Lihat kisah selengkapnya dalam syarah al-Arba’iin An-Nawawiyah, h. 44-46).
Demikianlah delapan konsekuensi syahadat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallah.
wallahu a’lam
_______________
Ustadz Anshari, S. Th. I, MA hafizhahullah
(Pembina Pusat Dakwah dan Kajian Sunnah Gowa)

