
Mengaku Mengetahui Perkara Yang Akan Terjadi
Di zaman ini banyak yang mengaku bisa mengetahui perkara atau kejadian yang belum terjadi. Padahal manusia adalah makhluk yang serba terbatas. Termasuk dalam hal mengetahui perkara ghaib atau peristiwa yang belum terjadi.
Perkara ghaib hanya Allah yang mengetahuinya. Tak seorangpun mampu mengetahui perkara ghaib kecuali para Nabi yang Allah beritahukan kepada mereka. Sebagaimana firman Allah ta’ala,
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ
“Dialah Allah Yang Mengetahui perkara ghaib. Allah tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang perkara ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya..” (QS. Al Jin: 26-27)
Allah ta’ala juga berfirman,
قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, (QS. An Naml: 65)
Allah ta’ala juga berfirman,
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri” (QS. Al An’am: 59)
Ayat-ayat ini semua menjelaskan bahwa hanya Allah yang tahu perkara ghaib.
Sehingga jika ada yang mengaku tahu perkara ghaib, atau tahu apa yang belum terjadi, tahu kemana barang yang hilang padahal ia tidak menyaksikan kehilangannya, dan lain-lain, maka ia telah berdusta. Karena Allah tak pernah perdusta dengan firman-firmanNya.
Hingga tak pantas seorang muslim untuk menayakan perkara-perkara ghaib seperti nasib, rejeki, jodoh, dan lain-lain kepada siapapun. Karena di tangan Allahlah kunci-kunci perkara ghaib.
________________
Ustadz Bambang Abu Ubaidillah hafizhahullah
(Pembina Madrosah Sunnah Makassar)

