
Tentang Tayammum
Tayamum secara bahasa adalah al-Qashdu ( الۡقَصۡدُ ) yaitu bermaksud atau menginginkan sesuatu. Dikatakan:
تَيَمَّمۡتُ فُلَانًا وَيَمَّمۡتُهُ وَتاَمَّمۡتُهُ وَأمَمۡتُهُ أيۡ قَصَدۡتُهُ
“Maksudnya saya menginginkannya”.
Seperti dalam firman Allah Subhanahu Wata’ala:
وَلاَ تَيَمَّمُوا الۡخَبِيۡثَ مِنۡهُ تُنۡفِقُوۡن … ( البقرۃ : ٢٦٧)
Artinya:
Dan janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu infakkan…(QS. Al-Baqarah ayat 267).
Adapun secara syariat, Tayamum adalah menyentuh bagian permukaan atas bumi untuk mensucikan diri dengan tujuan untuk membolehkan perkara-perkara yang dikerjakan dengan berwudhu atau mandi. (Syeikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim, Shahih Fiqhussunnah, Juz I, h. 163 ).
Syeikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah mendefinisikan tayamum adalah mengusap wajah dan kedua tangan dengan tanah dengan tata cara yang khusus. (Al-Mulakhkhash Al-Fiqhiy, h. 70.
Dalil-dalil tentang syariat tayamum
1. Firman Allah Subhanahu Wata’ala
فَلَمۡ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيۡدًا طَيِّبًا.
Artinya:
“Maka jika kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan debu yang baik (suci)” (QS. An-Nisa ayat 43 dan Al-Maidah ayat 6).
2. Hadis Nabi Shallallahu alaihi wasallam dari Imran bin Hushain radhiallahu anhu, beliau berkata:
صَلَّی رَسُوۡلُ اللهِ صَلَّی اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ رَأی رَجُلاً مُعۡتَزِلاً لَمۡ يُصَلِّ مَعَ الۡقَوۡمِ. فَقَال: يَا فُلَانُ مَا مَنَعَكَ أنۡ تُصَلِّيَ مَعَ الۡقَوۡمِ؟ فَقَالَ: أصَابَتۡنِي جَنَابَۃٌ وَلا مَاءَ. فَقالَ: عَلَيۡكَ بِالصَّعِيۡدِ فإنَّه يَكۡفِيۡكَ…(رواه البخاري ومسلم)
Artinya:
“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam shalat, (kemudian setelah selesai shalat) beliau melihat ada seseorang yang menjauh tidak shalat bersama dengan kaum. Maka beliau bersabda: “Wahai fulan, apa yang mengahalangimu untuk shalat bersama dengan kaum?” Maka ia menjawab: “Wahai Rasulullah, aku sedang junub dan tidak ada air. Maka Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hendaknya engkau mengambil debu, sesungguhnya itu cukup bagimu.”…(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dan masih ada beberapa hadis yang lain yang menjelaskan tentang disyariatkannya tayamum.
Dan juga dinukil ijma (kesepakatan ulama) tentang bolehnya tayamum.
wallahu a’lam
________________
Ustadz Anshari, S. Th. I, MA hafizhahullah
(Pembina Pusat Dakwah dan Kajian Sunnah Gowa)

