
Doa Di Bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan merupakan waktu yang sangat tepat untuk berdoa. Sebab telah datang keterangan dari Nabi-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang hal tersebut. Oleh karenanya, seyogyanya kita memperbanyak doa di bulan mulia tersebut. Terutama doa-doa yang telah sah dari Nabi-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- agar lebih baik dan lebih afdhol. Sebab Nabi-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah dianugrahi Al-Jawami’ul Kaliim yaitu kalimat yang ringkas namun memiliki makna yang sangat padat lagi luas.
Di sisi yang lain Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- merupakan manusia yang paling mengetahui tentang Allah, sehingga dia pulalah yang paling mengetahui kalimat apa yang lebih pantas untuk dipanjatkan kepad Rabbul ‘aalamin. Oleh karenanya, doa-doa yang telah dituntunkan adalah doa yang lebih utama, mengungguli segala bentuk doa apapun selainnya.
Adapun doa-doa yang berkaitan dengan bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:
1. Doa Melihat Hilal
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar -Rhadiyallahu anhuma-, ia berkata,”Apabila Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah melihat beliau membaca doa,
اللَّهُ أَكْبَرُ, اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا نُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
“Allah Maha Besar, yaa Allah, munculkanlah hilal itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, membawa taufiq kepada apa yang Engkau ridhai, Rabb kami dan Rabb kamu adalah Allah.” [HR. At-Tirmidzi dan Ad-Daarimi (1729)]
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- apabila melihat hilal beliau bertakbir. Sebab hilal merupakan tanda kebesaran dan keagungan Allah. Maka dengan mengucapkan takbir seorang hamba meyakini bahwalah Dia-lah Yang Maha Besar atas segala sesuatu.
Perlu untuk diperhatikan bahwa tidak perlu menghadap ke hilal (bulan sabit) ketika membaca doa ini. Sebagaimana hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh Al-Albani dalam kitabnya Al-Kalimut Thayyib.
2. Beristighfar Dan Doa Ketika Sahur
Waktu sahur merupakan waktu yang mustajabah untuk berdoa. Orang-orang sholeh terdahulu menggunakan waktu tersebut untuk meminta ampun kepada Allah. Allah -Azza wa jalla- berfirman,
“dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Al-Imron: 17)
Ibnu katsir -Rahimahullah- menyebutkan dalam tafsirnya bahwa hal tersebut menunjukkan keutamaan istighfar pada waktu sahur.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah juga bersabda bersabda,
“Rabb Tabaraka wa Ta’la turun ke langit dunia pada setiap malam, yakni saat sepertiga malam terakhir seraya berfirman, ‘Siapa yang berdo’a kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu niscaya akan Aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepadaKu, niscaya akan Aku ampuni.'” [HR. Al-Bukhari (1145) dan Muslim (168)]
Adapun doa yang datang dari Nabi-Shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika waktu sahur adalah hadits dari Abu Hurairah -Rhadiyallahu anhu- bahwa Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- membaca,
سَمِعَ سَامِعٌ بِحَمْدِ اللهِ وَحُسْنِ بَلَائِهِ عَلَيْنَا، رَبَّنَا صَاحِبْنَا وَأَفْضِلْ عَلَيْنَا، عَائِذًا بِاللهِ مِنَ النَّارِ
“semoga ada yang memperdengarkan pujian kami kepada Allah atas nikmat dan cabaan-Nya yang baik bagi kami. Wahai Rabb kami, dampingilah kami (peliharalah kami) dan berilah karunia kepada kami, dengan berlindung kepada Allah dari api Neraka.” [HR. Muslim (68)]
3. Doa Berbuka Puasa
Waktu yang membahagiakan seorang muslim di bulan Ramadhan adalah saat ketik berbuka puasa. Itulah moment berkumpulnya anggota keluarga setelah menahan lapar dan haus seharian. Aneka ragam makanan telah dihidangkan dan siap untuk disantap. Banyak kejadian lucu dan canda tawa menghiasi, menyambut waktu berbuka puasa. Namun di sisi bumi yang lain, masih banyak saudara-saudara kita yang tidak mendapatkan sepotong roti pun untuk bisa dijadikan buka puasa. Oleh karenanya, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengajarkan kita doa berbuka puasa agar kita senantiasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.
ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah tetap pahala insya Allah”. [HR. Abu Dawud (2357)]
Dzikir ini mengandung pengakuan terhadap karunia Allah yang telah menghilangkan rasa lapar dan dahaga,dan memberikan kenikmatan berupa makanan dan minuman. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.
Setelah beliau mencicipi hidangan buka puasa, beliau membaca doa berikut,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَ، وَسَقَى وَسَوَّغَهُ وَجَعَلَ لَهُ مَخْرَجًا
“Segala puji bagi Allah Yang telah memberi makan dan minum, memudahkan saat menelan dan menjadikan baginya tempat keluar.” [HR. Abu Dawud (3851)]
Makna “Sawwagha” yakni menjadikannya mudah masuk ke dalam saluran makanan.
Demikian pula ketika beliau selesai menyantap hidangan, beliau -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengucapkan,
اللَّهُ أَكْبَرُ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ,
Ustadz Abu Dawud Ilham Al Atsary hafizhahullah
(Pengasuh Buletin Madrosah Sunnah Makassar)

