
Meraih Berkah Di Waktu Sahur (Bag. Ketiga – Terakhir)
Kesalahan-Kesalahan Seputar Sahur
Guru kami, al-Ustadz Dzulqarnin hafizhahullah dalam bukunya “Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan al-Qur’an dan as-Sunnah” menyebutkan beberapa kesalahan dalam pelaksanaan puasa Ramadhan. Di antara hal yang disebutkan adalah:
1. Mempercepat makan sahur.
2. Menjadikan tanda imsak sebagai batasan waktu sahur.
3. Melafazkan niat puasa saat makan sahur. (Silahkan baca selengkapnya dalam buku tersebut).
Dan termasuk juga kesalahan seputar sahur adalah adanya sebagian orang yang makan di awal malam atau dini hari, kemudian hal tersebut dianggap sebagai makan sahur, tentunya hal tersebut bertentangan dengan makna sahur baik secara bahasa maupun perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Apabila Terdengar Adzan Sementara Ada Makanan dan Minuman Di Tangan
Dalam sebuah hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَی يَدِهِ، فَلَا يَضَعْهُ حَتَّی يَقْضِيَ حَاجَتَهُ
Artinya:
“Apabila salah seorang di antara kalian mendengarkan adzan sementara bejana ada di tangannya, maka janganlah dia letakkan hingga dia menunaikan hajatnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad).
Namun, hadits di atas ada kelemahan sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Abi Hatim dalam al-Ilal.
Andaikata hadits di atas shahih maka maknanya tidak bisa dipahami sebagaimana zhahirnya tetapi harus dipahami seperti yang dikatakan oleh Imam al-Baihaqiy di dalam Sunan al-Kubra bahwa yang diinginkan dari hadits di atas adalah seseorang boleh minum apabila diketahui bahwa muadzin mengumandangkan adzan sebelum terbitnya fajar subuh yaitu sebelum waktu sahur berakhir demikianlah menurut kebanyakan para ulama wallahu a’lam. (Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi hafizhahullah, Panduan Puasa Ramadhan di Bawah Naungan al-Qur’an dan as-Sunnah, hal. 45. Lihat juga Miskul Kitaam, Juz II, hal. 433).
Orang yang Makan Setelah Terbit Fajar
Apabila seorang makan dan minum setelah terbitnya fajar shadiq maka puasanya tidak sah dan wajib baginya qadha. Hal ini pernah ditanyakan kepada Syeikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah. (Lihat al-Fatawa, hal. 415).
Apabila Terbit Fajar Masih Meragukan
Apabila seorang ragu tentang terbitnya fajar shadiq, maka boleh baginya makan dan minum hingga dia benar-benar yakin tentang terbitnya fajar. Ini merupakan pendapat jumhur Ulama.
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam al-Majmu’ berkata: “Orang yang ragu akan terbitnya fajar boleh baginya makan dan minum serta hubungan suami isteri menurut kesepakatan. Dan tidak ada qadha baginya apabila dia ragu.”
Menyetel Alarm
Boleh menyetel alarm untuk membangunkan bangun sahur. Dari Zaid bin Khalid radhiyallahu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تَسُبُّوا الدِّيْكَ، فَإِنَّهُ يُوقِذُ لِلصَّلَاةِ
Artinya:
“Jangan kalian mencela ayam jantan, karena dia membangunkan untuk shalat.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud).
Hadits ini merupakan dalil bahwa selayaknya seseorang untuk mengambil apa yang bisa membangunkan untuk shalat, seperti jam beker (alarm)… (Syeikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin rahimahullah, Syarah Riyaadush Shalihiin, Juz IV, 300).
Apabila dibolehkan untuk menggunakan alat pengingat (semacam alarm) untuk membangunkan shalat pada waktunya, maka demikian juga dibolehkan untuk menggunakan hal tersebut untuk mengingatkan waktu sahur sehingga seseorang tidak luput dari sunnah yang mulia yaitu makan sahur.
Catatan: Hendaknya tidak menggunakan bunyi alarm yang diharamkan, seperti musik, lonceng dan yang semisalnya.
Wallahu a’lam.
Demikianlah apa yang dapat kami sebutkan tentang masalah hukum-hukum seputar makan sahur. Semoga kita semua dapat mendapatkan keberkahan yang besar ini. Dan semoga kita termasuk dalam orang-orang yang ikhlas dalam berucap dan beramal.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم إلى يوم الدين. والحمد لله رب العالمين
Ustadz Anshari, S. Th. I, MA Hafizhahullah
(Pembina Pusat Dakwah dan Kajian Sunnah Gowa)

